#tribute-to-mas-eric-22
Januari 2008, Atma Jaya, Jakarta, saya lupa tepatnya. Itulah ketika saya pertama kali berjumpa dengan Eric Mulyadi Santosa. Saya sudah sering mendengar namanya waktu itu. Namun kami belum pernah berjumpa langsung.
Percakapan pertama kali kami adalah soal apa itu manusia. Wah memang terdengar berat sekali, tetapi itulah yang terjadi. Ia dulu bilang begini, “Manusia itu bukan substansi, tetapi jaringan.” Saya langsung setuju dengan pendapat itu.
Saya merasa berbicara dengan cermin. Yah, bagaikan berbicara dengan diri sendiri. Sejak awal berbicara kami langsung nyambung, terutama tentang tema-tema yang terkait dengan kehidupan manusia. Dalam banyak hal kami juga amat mirip.
Eric cenderung mengatakan segala sesuatu secara tegas. Saya pun sama. Ketika di kelas ia tidak ragu untuk bilang begini ke mahasiswanya, “Paper-mu dangkal.” Saya pun sama. Hehehe… Tak perlu diragukan lagi. Saya dan Eric memiliki posisi teoritis maupun nilai-nilai kehidupan yang “sama”.
Ada bukti lainnya. Eric selalu mengambil jarak, dan mencoba memikirkan ulang apa yang dilakukannya. Ini adalah pola sikap reflektif. Saya pun kerap kali melakukannya. Ketika pola mengambil jarak ini ditujukan pada hal-hal di luar diri, orang menyebutnya sikap kritis. Eric adalah seorang pemikir yang kritis dan reflektif. Tanpa mau menyombongkan diri, saya merasa, saya pun juga begitu.
Kami berdua tidak pernah puas dengan jawaban-jawaban dangkal. Kami benci dengan hal-hal klise (umum), dan selalu mencoba mencari alternatif lain yang lebih tepat. Kami mencari kedalaman di dalam kehidupan sehari-hari, tentu sesuai dengan jalur hidup kami masing-masing.
Kami berdua tak sabar dengan orang idiot yang merasa cerdas. Tak heran kami membenci orang yang sama (apakah benar, Ric?). Kerap kali kami bereaksi juga dengan cara yang sama. Dan tak heran pula, kami dibenci oleh orang yang sama. Hehehe…
Di balik itu semua, saya yakin, Eric adalah pribadi yang lembut dan sensitif. Saya yakin ia akan tertawa membaca kalimat di atas. Hahahaha…Saya tahu bahwa ia amat peduli pada pendidikan, dan sama sekali tak suka dengan pola pendidikan formal yang ia tekuni selama ini. Mengapa saya tahu itu? Karena saya juga… ahahahaha…
Kami berdua amat mencintai paradoks, yakni ketika dua hal yang tampaknya bertentangan justru menjadi benar di dalam perbedaannya, seperti orang yang terlalu banyak belajar akan menjadi bodoh, atau kreativitas perlu melalui proses kehancuran, sebelum ia lahir dan berkembang. Itulah kontradiksi yang menghidupkan.
“All great truths are in the form of paradox”, begitulah Eric selalu berkata. Dan seperti biasa; saya sangat setuju dengan pendapat itu. Kita lahir melalui penderitaan yang amat dasyat yang dijalani oleh ibu kita. Hidup ini pada hakekatnya adalah paradoks. Eric pasti setuju dengan pendapat itu. Mengapa saya tahu? Karena saya juga setuju…. Hahaha
Namun tentu saja kami dua individu yang berbeda. Berkali-kali kami berdiskusi keras. Ia selalu berkata begini, “Rez, ide lo bagus… Tapi ide itu perlu punya kaki supaya bisa jadi kenyataan. Kita perlu make it happen Rez, ga hanya ide-ide cemerlang.” Saya banyak belajar dari diskusi-diskusi tersebut. Namun ironisnya saya setuju Eric, walaupun ia tidak setuju dengan pendapat saya.
Sekarang saya sibuk dengan menciptakan kaki untuk semua ide-ide saya yang aneh-aneh. Setelah pindah ke Surabaya, saya sangat jarang bertemu dengan Eric. Namun jika ada waktu, entah Eric ke Surabaya, atau saya ke Jakarta, kami selalu menyempatkan waktu untuk berjumpa, selalu. Dan bagi saya (semoga juga bagi Eric), setiap perjumpaan kami selalu bermakna, seberapapun singkatnya.
Orang bijak bilang begini, hadiah yang paling besar adalah kehadiran seorang sahabat sejati. Saya setuju dengan pendapat itu. Saya punya kenangan buruk dengan Atma Jaya, Jakarta. Namun semua itu hilang, ketika saya ingat, bahwa saya punya beberapa teman yang amat baik di sana (Raymond –sudah keluar-, Bu Murni, Bu Nani, Pak Mikael Dua, Pak Embu, Indra, Gita), dan seorang sahabat sejati, itulah Eric.
Sekarang ini Eric memutuskan untuk mengundurkan diri dari Atma Jaya. Saya rasa inilah salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuatnya. Ia keluar dari kemapanan institusi pendidikan formal, dan menjadi nol lagi dengan segala kreativitas dan energi hidupnya yang luar biasa.
Ini mengajarkan kepada saya, dan juga kepada para mahasiswa maupun pembaca tulisan ini, untuk setia dengan passion yang membakar dalam diri. Ia mengajarkan kepada kita untuk tidak menjadi pengecut yang takut pada gerak kehidupan. Badai mungkin menghadang. Tetapi saya yakin Eric akan hidup, dan hidup dengan segala kepenuhannya. Saya yakin itu.
Dalam salah satu pidatonya, Steve Jobs pernah bilang begini, “Stay foolish, Stay Hungry, that’s what I wish for my self, and for you all.” Saya menangkap bahwa Jobs mengajak kita untuk terus bergerak, mencari, jatuh, bangun, berkarya, dan tak pernah puas dengan kemapanan. Jobs mengajak kita semua untuk menjadi para penantang kehidupan.
Untuk Eric Mulyadi Santosa: stay foolish and stay hungry, brother! Dan supaya kamu tetap tahu, kamu tidak sendirian. Tidak pernah sendirian.
Surabaya, 2011
Reza A.A Wattimena (sahabatnya Eric)
Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya
Pages
Tentang Blog!
Blog ini dibuat untuk mengumpulkan tulisan dari mahasiswa, rekan kerja, alumni, dosen, atau siapa pun yang mengenal dan punya pengalaman berkesan dengan mas Eric. Kumpulan tulisan ini akan dibukukan, untuk diberikan kepada mas Eric pada 18 Mei 2011, saat pesta perpisahan beliau. Tulisan bisa dikirimkan ke: octovary@gmail.com, paling lambat 15 Mei 2011.
Kumpulan tulisan sudah dibukukan dan diberikan ke mas Eric, sekaligus ke semua penulisnya.. Tanggapan hangat dari mas Eric juga sudah disampaikan ke semua penyumbang tulisan, bisa dilihat dari blog mas Eric di:
Sedikit Tulisan Dari Mantan Asdos!
#tribute-to-mas-eric-21
Mau numpang nulis dikiiiiit ajah! Hehe.
Gue ga pernah ngobrol terlalu banyak sama Mas Eric. Gue juga ga berinteraksi terlalu banyak sehingga bisa nyolong ilmunya. Padahal gue pernah ngasdosin Mas Eric, tapi entah kenapa waktu itu gue ga punya banyak keberanian untuk berargumen dan bertukar pikiran sama Mas Eric. Jujur itu bikin gue nyesel karena merasa melewatkan kesempatan untuk belajar.
Kata orang, Mas Eric jarang masuk kelas, tapi waktu gue ngasdosin dia, dia sering masuk kelas kok! (yaahh... Walau telatnya naujubillah dan sering lupa ruangan kelasnya di mana, jadi sering gue sms pagi-pagi biar dia inget buat nongol di kelas! Hehe..). Yang gue inget banget adalah mahasiswa-mahasiswanya rela menunggu mas Eric hampir 1,5 jam. Berdiam di kelas, hanya untuk menunggu ngedengerin omongan Mas Eric, dan siap-siap dibantai pas berargumen. Mas Eric sendiri waktu itu kelihatannya agak bingung, kenapa mahasiswa pada rela nunggu. Kayaknya dia ga sadar kalo setiap waktu yg dipake buat dengerin omongan dia dan dibantai, adalah waktu yang terasa sangat singkat bagi mahasiswanya untuk belajar.
Setiap ada yg ngomongin Mas Eric pasti gue selalu senyum karena mereka sering banget bilang mas Eric tuh absurd, ga jelas, ribet, ruwet, ngambang, pinternya ampe langit ketujuh ampe kita ga bisa nyambung, dan lain sebagainya. Gue ga bilang bahwa gue ngerti semua yang diomongin mas Eric sih, tapi omongan dia selalu berhasil bikin gue belajar berpikir dari banyak sisi dan terbuka, ga kaku dalam melihat sesuatu, apalagi menjudge sesuatu dengan hanya berdasarkan sedikit informasi.
Sampe sekarang sosok Mas Eric emang masih absurd buat gue! haha. Gue cuma pengen bilang terima kasih buat semua yang secara sadar ataupun tidak, sudah dia ajarin ke gue. Terima kasih karena udah bikin masa depan Gunawan cerah (jadi masa depan gue juga bisa keliatan agak cerah dikit! haha). Makasih karena mau ngabis-ngabisin waktu buat ngajar dan ngobrol sama mahasiswa. Terima kasih karena menahan diri buat ga maki-maki mahasiswa kayak gue, yang kadar otak dan pengalamannya sedikit dan bikin gemes kalo berargumen. Terima kasih juga karena udah sabar membimbing para mahasiswa supaya bisa mencicipi sedikit dari banyak pengalaman dan kepintaran Mas Eric.
Bye mas! Semoga bisa ketemu lagi kapan-kapan ya, Mas.
Best wishes supaya bisa menjadi jauh lebih sukses dari sekarang dalam segala aspek hidup.
Tampaknya fakultas Psikologi Unika Atma Jaya kehilangan salah satu dosen paling berpengaruh dan paling dikagumi nih. Hehe..
Salam,
Gladys Gunawan (mahasiswinya Mas Eric, angkatan 2006)
The First Unique Tour Guide of My Life
#tribute-to-mas-eric-20
Eric Santosa. Nama yang akan selalu gue inget. Gimana bisa lupa coba? Ketika pelatihan di salah satu tempat di daerah Tapos, pas ngobrol-ngobrol sama manager penginapan, eh ternyata dia kenal sama Mas Eric. Pas gue lagi survei ke Jogja, daerah Boyolali, orang yang megantar dan menemani gue juga kenal sama Mas Eric. Saat gue lagi ngobrol sama owner salah satu perusahaan mining, pasti nama Mas Eric disebut-sebut (wah ketawan ngegosipin Mas Eric! hahahaha). Saat gue lagi bincang santai sama Presiden Komisaris salah satu holding company di Indonesia, nama Mas Eric pun disebut. Saat gue lagi berkunjung ke tempat pelatihan petani organik di daerah Bogor Selatan, mereka pun kenal Mas Eric!
Sama seperti mendapat gelar Sarjana Psikologi. Di satu sisi bangga, tapi di sisi lain seperti ada harapan lebih dari orang-orang di sekeliling kita. Begitupun kalau mengenal Mas Eric. Apalagi gue menjadi anak binaan skripsi Mas Eric. Saat bertemu dengan orang-orang, pasti gue bilang bahwa beliau adalah pembimbing skripsi gue. Dan mereka seringkali bilang "Wah... Pinter donk ya!". Atau "Guru lu Doktor tuh gelarnya!" atau "Dia udah S3 kan?" dan seterusnya. Nah, sudah kebayang maksud yang ingin saya sampaikan kan? Orang akan langsung memberi penilaian lebih pada saya, hanya karena saya adalah binaannya mas Eric. Padahal saya sendiri merasa bahwa saya ini biasa saja. Hahahaha
Saat ini gue mau berbagi bahwa ilmu yang bisa diserap dari Mas Eric bukan sekedar what archetype is. Bukan sekedar urgensi saat membuat proposal metode penelitian. Bukan sekedar kritis dan detail saat melakukan metode kualitatif. Bukan sekedar menghafal teori kepribadian. Dan seterusnya, dan seterusnya. Yang diajarkan oleh Mas Eric itu more than that! Bukan berarti tidak perlu menghafal atau mengerti semua tersebut ya. Tapi akan menjadi salah jika kita menerima mentah-mentah celetukan beliau yang sering bilang “Buat apa statistik? Buat apa kuantitatif? Kualitatif lebih oke!”. Tahukah Anda bahwa orang yang bisa berbicara seperti itu, ya karena dia sudah ngelotok apa itu kuantitatif apa itu kualitatif. Statement itu untuk membakar dan membangkitkan semangat orang untuk belajar kualitatif. Bukan berarti kualitatif segalanya. Wong Mas Eric dulu dosennya Mba Angel untuk mata kuliah Konstruksi Tes kok! (Seingat saya ya, semoga data ini benar! Hahahaha)
Pada intinya gue mau mengajak untuk think beyond the statement! Whatever you hear, whatever you read! Misalnya saja kalau sekarang temen-temen bosen dan sebel banget ama statistik. Gue dan Mas Eric pada suatu kesempatan ngobrol-ngobrol di kantin Atma waktu kuliah dulu di pagi hari, membicarakan bahwa statistik is not only about numbers ataupun rumus. Melainkan sistematika berpikir yang dibentuk. Logika berpikir yang diasah. Dan seterusnya. Hal-hal itulah yang sebenarnya terlatih di setiap para pembelajar statistik.
Ada statement mas eric yang seringkali dikumandangkan "Do what you love and money will follow you". Do you agree with this statement? Saya akan bahas di lain waktu. Kepanjangan kalo dibahas di sini! Hahahaha. Maybe next time ya. Intinya tetep, find out what’s there beyond that statement!
Anyway, Mas Eric bukan satu-satunya mentor kehidupan gue. Setidaknya ini seirama dengan statement "People don't need a mentor. They need many mentors! I'm not saying that every people you meet will teach you something. All i'm saying is that people have the potential to do so, if you'll let them." (John C Maxwell, Self Improvement, 2009). Begitulah, Mas Eric bukanlah satu-satunya mentor gue, tapi beliau merupakan The First Unique Tour Guide of My Life. Kenapa “unique”? Karena dia akan memberi tahu di awal, lantas selanjutnya terserah kita. Kalau tour guide akan terus ada di samping kita menjelaskan ini-itunya, maka beliau tidaklah seperti itu! Jika kita butuh diskusi untuk strategi khusus, beliau akan usahakan ada. Mas Eric akan terus memberi tahu tempat-tempat tour beserta orang-orang yang bisa ditimba ilmunya. Beliau juga akan meng-guide pikiran kita untuk lebih tajam melihat suatu kondisi dan tujuan dari suatu hal yang ingin dicapai.
Kalau kita merujuk pada paragraf awal tulisan gue ini, gue bisa ketemu dengan orang-orang di atas dan orang-orang besar lainnya, itu karena Mas eric sudah menawarkan gue pintunya doraemon: Pintu Kemana Saja! Berikut ceritanya: Pada tanggal 27 Agustus 2009, ada sms berbunyi dan pas gue baca eh dari Mas Eric. Berikut pesannya: "Gun, ttg magang loe bisa fulltime mulai 1 sept gak? Kalo loe bisa, Jumat jam 3 kita ktmu Pak Jun". Gue saat itu langsung mengiyakan. Karena gue yakin dan trust sama beliau bahwa dia pasti memberikan hal yang oke buat orang di sekitarnya. Walaupun ada pertanyaan-pertanyaan seperti: magang kok fulltime? Di mana? Ngapain? Dan seterusnya.
Seiring berjalannya waktu ternyata pintu yang ditawarkan Mas Eric ini merupakan pintu utama, karena di dalamnya ada banyak sekali pintu-pintu besar lainnya, yang sekarang ini sedang gue buka, lihat, dan masuki. Sekarang gue berada di salah satu organisasi PBB. Di mana anggotanya adalah perusahaan-perusahaan multinasional dan nasional yang berskala besar, menengah, dan kecil. Juga ada LSM internasional dan nasional. Juga universitas-universitas di seluruh Indonesia. Di sinilah kemudian gue bisa sambil mendirect Training Center sendiri yang sudah berusia satu tahunan. Kemudian bisa ketemu orang-orang dari berbagai daerah dan negara. Juga bisa ketemu, ngobrol, diskusi, bahkan bekerja bersama dengan orang-orang di tingkat Manager, Director, Owner sampai Staf dan OB dari berbagai perusahaan di Indonesia. Dari ahli sampai orang awam sekalipun. Dan saat perpisahan Mas Eric dilangsungkan, gue sedang berada di Copenhagen untuk menghadiri United Nations Global Compact Week & Asia Local Network Forum, di mana gue akan presentasi di sana.
Semua hal di atas bisa dicapai karena gue mengenal Mas Eric. Menaruh kepercayaan pada beliau. Dan gue sangat berterimakasih sekali buat ajaran-ajarannya juga statement: "Gua rasa lu gagal di ujian ini tapi masih ada kesempatan kedua. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin." Statement itu keluar saat gue menghadapi sebuah ujian di dunia perkuliahan. Hingga kini, statement tersebut masih terus terngiang di telinga gue.
Ya, saya senang menyebut beliau The First Unique Tour Guide of My Life.. Karena dia akan menceritakan banyak hal (apalagi kalau berdua doank, ilmunya keluar semua. Ibarat kata, ditoel muntah). Karena tiap kali udah bingung dan perlu guide, gue pasti inget dia. Dan dia akan bertanya “Lu bingung yang mana? bingung jaya atau bingung..............?”
Sekian dari saya.
Maju terus mas Eric.
Maju terus Hadjatan siMbok. (Biar bisa hadjatan dimana-mana).
Maju terus Research-research lu!
See you soon,
Gunawan Wijaya (mahasiswanya Mas Eric, angkatan 2005)
Eric Santosa. Nama yang akan selalu gue inget. Gimana bisa lupa coba? Ketika pelatihan di salah satu tempat di daerah Tapos, pas ngobrol-ngobrol sama manager penginapan, eh ternyata dia kenal sama Mas Eric. Pas gue lagi survei ke Jogja, daerah Boyolali, orang yang megantar dan menemani gue juga kenal sama Mas Eric. Saat gue lagi ngobrol sama owner salah satu perusahaan mining, pasti nama Mas Eric disebut-sebut (wah ketawan ngegosipin Mas Eric! hahahaha). Saat gue lagi bincang santai sama Presiden Komisaris salah satu holding company di Indonesia, nama Mas Eric pun disebut. Saat gue lagi berkunjung ke tempat pelatihan petani organik di daerah Bogor Selatan, mereka pun kenal Mas Eric!
Sama seperti mendapat gelar Sarjana Psikologi. Di satu sisi bangga, tapi di sisi lain seperti ada harapan lebih dari orang-orang di sekeliling kita. Begitupun kalau mengenal Mas Eric. Apalagi gue menjadi anak binaan skripsi Mas Eric. Saat bertemu dengan orang-orang, pasti gue bilang bahwa beliau adalah pembimbing skripsi gue. Dan mereka seringkali bilang "Wah... Pinter donk ya!". Atau "Guru lu Doktor tuh gelarnya!" atau "Dia udah S3 kan?" dan seterusnya. Nah, sudah kebayang maksud yang ingin saya sampaikan kan? Orang akan langsung memberi penilaian lebih pada saya, hanya karena saya adalah binaannya mas Eric. Padahal saya sendiri merasa bahwa saya ini biasa saja. Hahahaha
Saat ini gue mau berbagi bahwa ilmu yang bisa diserap dari Mas Eric bukan sekedar what archetype is. Bukan sekedar urgensi saat membuat proposal metode penelitian. Bukan sekedar kritis dan detail saat melakukan metode kualitatif. Bukan sekedar menghafal teori kepribadian. Dan seterusnya, dan seterusnya. Yang diajarkan oleh Mas Eric itu more than that! Bukan berarti tidak perlu menghafal atau mengerti semua tersebut ya. Tapi akan menjadi salah jika kita menerima mentah-mentah celetukan beliau yang sering bilang “Buat apa statistik? Buat apa kuantitatif? Kualitatif lebih oke!”. Tahukah Anda bahwa orang yang bisa berbicara seperti itu, ya karena dia sudah ngelotok apa itu kuantitatif apa itu kualitatif. Statement itu untuk membakar dan membangkitkan semangat orang untuk belajar kualitatif. Bukan berarti kualitatif segalanya. Wong Mas Eric dulu dosennya Mba Angel untuk mata kuliah Konstruksi Tes kok! (Seingat saya ya, semoga data ini benar! Hahahaha)
Pada intinya gue mau mengajak untuk think beyond the statement! Whatever you hear, whatever you read! Misalnya saja kalau sekarang temen-temen bosen dan sebel banget ama statistik. Gue dan Mas Eric pada suatu kesempatan ngobrol-ngobrol di kantin Atma waktu kuliah dulu di pagi hari, membicarakan bahwa statistik is not only about numbers ataupun rumus. Melainkan sistematika berpikir yang dibentuk. Logika berpikir yang diasah. Dan seterusnya. Hal-hal itulah yang sebenarnya terlatih di setiap para pembelajar statistik.
Ada statement mas eric yang seringkali dikumandangkan "Do what you love and money will follow you". Do you agree with this statement? Saya akan bahas di lain waktu. Kepanjangan kalo dibahas di sini! Hahahaha. Maybe next time ya. Intinya tetep, find out what’s there beyond that statement!
Anyway, Mas Eric bukan satu-satunya mentor kehidupan gue. Setidaknya ini seirama dengan statement "People don't need a mentor. They need many mentors! I'm not saying that every people you meet will teach you something. All i'm saying is that people have the potential to do so, if you'll let them." (John C Maxwell, Self Improvement, 2009). Begitulah, Mas Eric bukanlah satu-satunya mentor gue, tapi beliau merupakan The First Unique Tour Guide of My Life. Kenapa “unique”? Karena dia akan memberi tahu di awal, lantas selanjutnya terserah kita. Kalau tour guide akan terus ada di samping kita menjelaskan ini-itunya, maka beliau tidaklah seperti itu! Jika kita butuh diskusi untuk strategi khusus, beliau akan usahakan ada. Mas Eric akan terus memberi tahu tempat-tempat tour beserta orang-orang yang bisa ditimba ilmunya. Beliau juga akan meng-guide pikiran kita untuk lebih tajam melihat suatu kondisi dan tujuan dari suatu hal yang ingin dicapai.
Kalau kita merujuk pada paragraf awal tulisan gue ini, gue bisa ketemu dengan orang-orang di atas dan orang-orang besar lainnya, itu karena Mas eric sudah menawarkan gue pintunya doraemon: Pintu Kemana Saja! Berikut ceritanya: Pada tanggal 27 Agustus 2009, ada sms berbunyi dan pas gue baca eh dari Mas Eric. Berikut pesannya: "Gun, ttg magang loe bisa fulltime mulai 1 sept gak? Kalo loe bisa, Jumat jam 3 kita ktmu Pak Jun". Gue saat itu langsung mengiyakan. Karena gue yakin dan trust sama beliau bahwa dia pasti memberikan hal yang oke buat orang di sekitarnya. Walaupun ada pertanyaan-pertanyaan seperti: magang kok fulltime? Di mana? Ngapain? Dan seterusnya.
Seiring berjalannya waktu ternyata pintu yang ditawarkan Mas Eric ini merupakan pintu utama, karena di dalamnya ada banyak sekali pintu-pintu besar lainnya, yang sekarang ini sedang gue buka, lihat, dan masuki. Sekarang gue berada di salah satu organisasi PBB. Di mana anggotanya adalah perusahaan-perusahaan multinasional dan nasional yang berskala besar, menengah, dan kecil. Juga ada LSM internasional dan nasional. Juga universitas-universitas di seluruh Indonesia. Di sinilah kemudian gue bisa sambil mendirect Training Center sendiri yang sudah berusia satu tahunan. Kemudian bisa ketemu orang-orang dari berbagai daerah dan negara. Juga bisa ketemu, ngobrol, diskusi, bahkan bekerja bersama dengan orang-orang di tingkat Manager, Director, Owner sampai Staf dan OB dari berbagai perusahaan di Indonesia. Dari ahli sampai orang awam sekalipun. Dan saat perpisahan Mas Eric dilangsungkan, gue sedang berada di Copenhagen untuk menghadiri United Nations Global Compact Week & Asia Local Network Forum, di mana gue akan presentasi di sana.
Semua hal di atas bisa dicapai karena gue mengenal Mas Eric. Menaruh kepercayaan pada beliau. Dan gue sangat berterimakasih sekali buat ajaran-ajarannya juga statement: "Gua rasa lu gagal di ujian ini tapi masih ada kesempatan kedua. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin." Statement itu keluar saat gue menghadapi sebuah ujian di dunia perkuliahan. Hingga kini, statement tersebut masih terus terngiang di telinga gue.
Ya, saya senang menyebut beliau The First Unique Tour Guide of My Life.. Karena dia akan menceritakan banyak hal (apalagi kalau berdua doank, ilmunya keluar semua. Ibarat kata, ditoel muntah). Karena tiap kali udah bingung dan perlu guide, gue pasti inget dia. Dan dia akan bertanya “Lu bingung yang mana? bingung jaya atau bingung..............?”
Sekian dari saya.
Maju terus mas Eric.
Maju terus Hadjatan siMbok. (Biar bisa hadjatan dimana-mana).
Maju terus Research-research lu!
See you soon,
Gunawan Wijaya (mahasiswanya Mas Eric, angkatan 2005)
Yang Tipe Gini Nih!
#a-tribute-to-mas-eric-03
Saya salah satu mahasiswa yang kebetulan "dihajar" oleh mas Eric ini. Kesan? Kesannya waktu mengikuti gaya mengajarnya beliau ini: "Wah dulu gw pernah punya cita-cita jadi pengajar tipe gini nih."
Tipe gini tuh maksudnya:
1. Jelasin wara-wiri terkesan abstrak karena gabungan dari teori, pengalaman, dan aplikasi.
2. Dateng ga dateng ya pokoknya anak-anaknya dulu lah yang dateng.
3. Membuat kelasnya "kalo mau denger ya silakan, nggak ya saya juga ga ngurusin."
4. Lo bukan pinter karena lo duduk diem dengerin gw, tapi karena lo mau tau lebih banyak dan ngincer apa yang membuat lo penasaran.
5. Gw kasi apa yang mau gw kasi, suka2 gw lah mau ngasi materi apa, wong yang ngajar gw.
hahahahaha..
Terlepas dari itu, kesan gw yang cukup 'dalem' sama mas Eric itu terutama karena satu momen di bawah ini:
- Suatu ketika, gw melontarkan satu (mungkin satu-satunya pertanyaan gw di kelas beliau). Pertanyaan yang ternyata dijawab dengan singkat, padat, jelas, dan ternyata membuat gw sebagai mahasiswa merasa dihargai oleh dosennya (mau tau jawabannya apa? ah ga mau kasi tau ah).
Sebenarnya saya pribadi penasaran dengan figur yang satu ini, namun mungkin saya belum punya relasi yang cukup dekat untuk memulai diskusi dengan beliau. Yah, mudahnya, saya sih nggak tau ya ke mana harus mencari beliau. Menyuruh saya untuk mencari tahu ke Mbak Atink (Wakil Dekan I kita) pun belum tentu membuahkan hasil.
Btw, kelas gw yang diajar beliau ini adalah kelas metode kualitatif. (Oh ya mas, Anda nyaris saja terkena cekal karena tidak hadir hari selasa, 10 Mei 2011 kemarin. Anda sudah 3x tidak hadir loh). hehe
Salam,
Gamaray Julian (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Saya salah satu mahasiswa yang kebetulan "dihajar" oleh mas Eric ini. Kesan? Kesannya waktu mengikuti gaya mengajarnya beliau ini: "Wah dulu gw pernah punya cita-cita jadi pengajar tipe gini nih."
Tipe gini tuh maksudnya:
1. Jelasin wara-wiri terkesan abstrak karena gabungan dari teori, pengalaman, dan aplikasi.
2. Dateng ga dateng ya pokoknya anak-anaknya dulu lah yang dateng.
3. Membuat kelasnya "kalo mau denger ya silakan, nggak ya saya juga ga ngurusin."
4. Lo bukan pinter karena lo duduk diem dengerin gw, tapi karena lo mau tau lebih banyak dan ngincer apa yang membuat lo penasaran.
5. Gw kasi apa yang mau gw kasi, suka2 gw lah mau ngasi materi apa, wong yang ngajar gw.
hahahahaha..
Terlepas dari itu, kesan gw yang cukup 'dalem' sama mas Eric itu terutama karena satu momen di bawah ini:
- Suatu ketika, gw melontarkan satu (mungkin satu-satunya pertanyaan gw di kelas beliau). Pertanyaan yang ternyata dijawab dengan singkat, padat, jelas, dan ternyata membuat gw sebagai mahasiswa merasa dihargai oleh dosennya (mau tau jawabannya apa? ah ga mau kasi tau ah).
Sebenarnya saya pribadi penasaran dengan figur yang satu ini, namun mungkin saya belum punya relasi yang cukup dekat untuk memulai diskusi dengan beliau. Yah, mudahnya, saya sih nggak tau ya ke mana harus mencari beliau. Menyuruh saya untuk mencari tahu ke Mbak Atink (Wakil Dekan I kita) pun belum tentu membuahkan hasil.
Btw, kelas gw yang diajar beliau ini adalah kelas metode kualitatif. (Oh ya mas, Anda nyaris saja terkena cekal karena tidak hadir hari selasa, 10 Mei 2011 kemarin. Anda sudah 3x tidak hadir loh). hehe
Salam,
Gamaray Julian (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
"Psikolog...!"
#tribute-to-mas-eric-19
He is excellently inspiring!
Suatu hari di kantin, bersama dengan dua rekan lainnya, kami berdiskusi, dan hadirlah pernyataan beliau:"Ketika lo saat ini pakai baju warna biru, dan dengan bentuk baju dan desain seperti ini yang dipilih, itu bukan kebetulan. Gue bisa tau siapa lo, lewat bagaimana lo memilih baju ini." and there goes semua probing beliau kepada saya, terkait bagaimana saya bisa menjatuhkan pilihan pada baju yang tengah saya kenakan saat itu. Di akhir perbincangan, beliau memberikan penjelasan tentang siapa saya, secara garis besar dan tajam. Sungguh sangat sesuai."Kok bisa sih mas?!"
Beliau menjawab dengan gaya khasnya yang sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya: "Psikolog....!"
Sejak saat itu saya bertekad untuk meletakkan standard pada beliau. Tidak ada yang tahu saya rasa, standard yang saya pasang ini. Tidak juga beliau. Namun analisa beliau sungguh mencerminkan penghayatannya secara maksimal sebagai seorang psikolog. Beliau layak untuk saya jadikan model sepanjang saya menjalani hari-hari untuk menjadi seorang psikolog. Sampai pada akhirnya suatu hari pun setelah pembicaraan singkat soal pemilihan baju pada seseorang, saya juga dapat menganalisa dengan baik semua kepribadiannya, dan ditutup dengan : "Psikolog....!"
Thanks atas eksistensi mas Eric di UAJ sepanjang saya berkuliah di S1. Meski Anda tentu tidak sadar bagaimana pengaruh eksistensi Anda bagi penghayatan saya selama menjalani kuliah S1 dan S2 saat ini, namun semoga Anda tetap terus menjadi semakin layak dipanut oleh kami para mahasiswa Anda. Dalam tingkatan apapun. Sampai kapanpun.
may God bless your existence, wherever you are,
Barnabas Januario (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2005)
He is excellently inspiring!
Suatu hari di kantin, bersama dengan dua rekan lainnya, kami berdiskusi, dan hadirlah pernyataan beliau:"Ketika lo saat ini pakai baju warna biru, dan dengan bentuk baju dan desain seperti ini yang dipilih, itu bukan kebetulan. Gue bisa tau siapa lo, lewat bagaimana lo memilih baju ini." and there goes semua probing beliau kepada saya, terkait bagaimana saya bisa menjatuhkan pilihan pada baju yang tengah saya kenakan saat itu. Di akhir perbincangan, beliau memberikan penjelasan tentang siapa saya, secara garis besar dan tajam. Sungguh sangat sesuai."Kok bisa sih mas?!"
Beliau menjawab dengan gaya khasnya yang sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya: "Psikolog....!"
Sejak saat itu saya bertekad untuk meletakkan standard pada beliau. Tidak ada yang tahu saya rasa, standard yang saya pasang ini. Tidak juga beliau. Namun analisa beliau sungguh mencerminkan penghayatannya secara maksimal sebagai seorang psikolog. Beliau layak untuk saya jadikan model sepanjang saya menjalani hari-hari untuk menjadi seorang psikolog. Sampai pada akhirnya suatu hari pun setelah pembicaraan singkat soal pemilihan baju pada seseorang, saya juga dapat menganalisa dengan baik semua kepribadiannya, dan ditutup dengan : "Psikolog....!"
Thanks atas eksistensi mas Eric di UAJ sepanjang saya berkuliah di S1. Meski Anda tentu tidak sadar bagaimana pengaruh eksistensi Anda bagi penghayatan saya selama menjalani kuliah S1 dan S2 saat ini, namun semoga Anda tetap terus menjadi semakin layak dipanut oleh kami para mahasiswa Anda. Dalam tingkatan apapun. Sampai kapanpun.
One day a teacher, forever you are.
Good luck on your next plan, my teacher.
may God bless your existence, wherever you are,
Barnabas Januario (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2005)
Mata Kuliah Kehidupan
#tribute-to-mas-eric-18
Mendapat kabar bahwa Mas Eric akan berhenti mengajar di kampus nan jaya itu kenapa membuat gue merasa galau yah? Ya gue memang telah menuntaskan masa kuliah gue, yang berarti kalaupun beliau berhenti mengajar pun maka tidak ada pengaruhnya juga dengan gue toh. Setelah ditelusuri, mungkin ini karena betapa hebatnya pengaruh beliau dalam diri gue, dan mungkin teman-teman lain yang pernah diajar olehnya. Dengan pengaruh positif tersebut, rasanya akan sayang seribu sayang jika tidak diteruskan ke generasi selanjutnya. Walaupun hal ini membuat gue merasa beruntung karena telah menjadi salah satu mahasiswa pernah diajar dan dibimbing skripsinya oleh beliau.
Pengaruh positif yang gue dapatkan dari beliau adalah bukan hal-hal turning point yang ekstrim, melainkan lebih kepada sebuah proses. Harus gue akui, proses itu terjadi di setiap kelas peminatan Sosial yang diajar oleh beliau sampai pada bimbingan skripsi. Masih ingat di kepala gue ketika beliau memberikan ceramah pembuka di salah satu mata kuliah demi menyambut kami-kami yang baru saja duduk di kelas mata kuliah peminatan sosial pertama kami: "Kalian kenapa sih masuk peminatan sosial? Mau jadi pekerja sosial? YAKIN? Pekerja sosial itu engga ada duitnya loh! Lo kerja mau cari duit kan? Buat kasih makan anak istri kan? Kalau mau cari duit engga bisa di dunia sosial! Udah lah, kalian pindah aja ke peminatan PIO, Pendidikan, atau Klinis!".
Gue sangat suka bagaimana beliau tidak mengajar mahasiswanya untuk menjadi mahasiswa ber-IP tinggi, tetapi lebih mengajar mahasiswa untuk menjadi "orang benar". Dari perilaku beliau yang cukup cuek dengan nilai dan daftar absensi, gue menangkap bahwa kedua hal tersebut adalah hal absurd yang dapat mengalihkan mahasiswa dari tujuan awal kegiatan belajar-mengajar; belajar untuk menjadi lebih. Proses belajar tersebut pun tidak semudah 1 + 1 = 2 dan yang diajar pun tinggal mengangguk setuju. Beliau malah mengharapkan kami-kami dapat bertanya lebih lanjut dan tidak segitu mudahnya pasrah akan cekokan suatu pengetahuan baru. Beliau ingin menyadarkan kami bahwa pendidikan itu bukanlah model murid yang disuapi secara seragam oleh pengajarnya. Seperti bagaimana ketika pendidikan jaman Sekolah Dasar dulu pada pelajaran kesenian, SEMUA murid diminta menggambar dua gunung yang seperti (maaf) tetek dengan matahari di antaranya dan sawah di bawahnya (kurang lebih kalimat ini pernah beliau angkat dalam salah satu perkuliahan kami).
Selama bimbingan skripsi bersama beliau pun gue benar-benar merasakan cara mendidik beliau yang "tidak biasa". Alih-alih disuapi dengan materi-materi yang berhubungan dengan bahan, gue hanya diberikan judul-judul atau nama-nama referensi yang harus gue telusuri sendiri. Ibarat kata, gue hanya ditunjukkan pintu-pintu yang ada, yang sekiranya bisa membantu perziarahan gue, lalu terserah gue apakah gue mau memasuki pintu tersebut atau tidak. Dan terserah juga bagaimana cara gue menjalani dan menghadapi apa yang ada di balik pintu tersebut. Setiap bimbingan pun gue sadar bahwa betapa tidak bergunanya pertemuan tersebut jika gue tidak berbicara dengan frekuensi yang sama dengan beliau. Maka datang dengan kepala kosong dan berharap mendapat pencerahan dengan diisikan sesuatu jelas bukan apa yang dia harapkan.
Seperti layaknya memasuki dan menjalani apa yang ada di balik pintu tersebut, bertahan hidup dengan berdiri di atas kaki sendiri adalah kira-kira apa yang bisa gue petik dari pengalaman interaksi gue dengan beliau. Di mana hal tersebut menjadi semakin nyata ketika beliau pamit pergi di seperempat awal sidang skripsi gue. *glek* Nyeleneh ya? Haha! Sayang, padahal gue ingin berbagi kemenangan dengan fasilitator gue itu.
Proses belajar untuk menjadi lebih baik itu memang suatu proses yang abadi. Namun yang pasti, kenapa sekarang gue bisa terdampar di jalan hidup gue yang gue pilih ini, sedikit banyak mendapat kontribusi dari interaksi gue dengan beliau. Hal-hal seputar materi macam nilai, daftar kehadiran, dan bahkan uang, terkadang menjadi absurd ketika disandingkan dengan ilmu pengetahuan dan passion terdalam. Belajar untuk berpijak secara benar dengan kekuatan sendiri dan selalu kritis ternyata menjadi salah dua hal penting untuk dapat bertahan hidup di dunia luar. Belum lagi berbagai referensi dari beliau yang berhubungan dengan konsep Archetype Innocent, yang malah membangkitkan archetype tersebut dalam diri gue sampai sekarang.
Mas Eric, terima kasih atas pelajaran akan hidup, (yang mungkin secara tidak sadar) yang telah lo ajarkan ke gue. Gue enggak tahu apakah elo masih akan menjadi seorang pengajar atau tidak. Tapi yang pasti di mata gue, elo selalu tetap menjadi seorang dosen mata kuliah kehidupan di kampus bernama dunia nyata.
Selamat melanjutkan perjalanan, suhu!
Timo (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2005)
Mendapat kabar bahwa Mas Eric akan berhenti mengajar di kampus nan jaya itu kenapa membuat gue merasa galau yah? Ya gue memang telah menuntaskan masa kuliah gue, yang berarti kalaupun beliau berhenti mengajar pun maka tidak ada pengaruhnya juga dengan gue toh. Setelah ditelusuri, mungkin ini karena betapa hebatnya pengaruh beliau dalam diri gue, dan mungkin teman-teman lain yang pernah diajar olehnya. Dengan pengaruh positif tersebut, rasanya akan sayang seribu sayang jika tidak diteruskan ke generasi selanjutnya. Walaupun hal ini membuat gue merasa beruntung karena telah menjadi salah satu mahasiswa pernah diajar dan dibimbing skripsinya oleh beliau.
Pengaruh positif yang gue dapatkan dari beliau adalah bukan hal-hal turning point yang ekstrim, melainkan lebih kepada sebuah proses. Harus gue akui, proses itu terjadi di setiap kelas peminatan Sosial yang diajar oleh beliau sampai pada bimbingan skripsi. Masih ingat di kepala gue ketika beliau memberikan ceramah pembuka di salah satu mata kuliah demi menyambut kami-kami yang baru saja duduk di kelas mata kuliah peminatan sosial pertama kami: "Kalian kenapa sih masuk peminatan sosial? Mau jadi pekerja sosial? YAKIN? Pekerja sosial itu engga ada duitnya loh! Lo kerja mau cari duit kan? Buat kasih makan anak istri kan? Kalau mau cari duit engga bisa di dunia sosial! Udah lah, kalian pindah aja ke peminatan PIO, Pendidikan, atau Klinis!".
Gue sangat suka bagaimana beliau tidak mengajar mahasiswanya untuk menjadi mahasiswa ber-IP tinggi, tetapi lebih mengajar mahasiswa untuk menjadi "orang benar". Dari perilaku beliau yang cukup cuek dengan nilai dan daftar absensi, gue menangkap bahwa kedua hal tersebut adalah hal absurd yang dapat mengalihkan mahasiswa dari tujuan awal kegiatan belajar-mengajar; belajar untuk menjadi lebih. Proses belajar tersebut pun tidak semudah 1 + 1 = 2 dan yang diajar pun tinggal mengangguk setuju. Beliau malah mengharapkan kami-kami dapat bertanya lebih lanjut dan tidak segitu mudahnya pasrah akan cekokan suatu pengetahuan baru. Beliau ingin menyadarkan kami bahwa pendidikan itu bukanlah model murid yang disuapi secara seragam oleh pengajarnya. Seperti bagaimana ketika pendidikan jaman Sekolah Dasar dulu pada pelajaran kesenian, SEMUA murid diminta menggambar dua gunung yang seperti (maaf) tetek dengan matahari di antaranya dan sawah di bawahnya (kurang lebih kalimat ini pernah beliau angkat dalam salah satu perkuliahan kami).
Selama bimbingan skripsi bersama beliau pun gue benar-benar merasakan cara mendidik beliau yang "tidak biasa". Alih-alih disuapi dengan materi-materi yang berhubungan dengan bahan, gue hanya diberikan judul-judul atau nama-nama referensi yang harus gue telusuri sendiri. Ibarat kata, gue hanya ditunjukkan pintu-pintu yang ada, yang sekiranya bisa membantu perziarahan gue, lalu terserah gue apakah gue mau memasuki pintu tersebut atau tidak. Dan terserah juga bagaimana cara gue menjalani dan menghadapi apa yang ada di balik pintu tersebut. Setiap bimbingan pun gue sadar bahwa betapa tidak bergunanya pertemuan tersebut jika gue tidak berbicara dengan frekuensi yang sama dengan beliau. Maka datang dengan kepala kosong dan berharap mendapat pencerahan dengan diisikan sesuatu jelas bukan apa yang dia harapkan.
Seperti layaknya memasuki dan menjalani apa yang ada di balik pintu tersebut, bertahan hidup dengan berdiri di atas kaki sendiri adalah kira-kira apa yang bisa gue petik dari pengalaman interaksi gue dengan beliau. Di mana hal tersebut menjadi semakin nyata ketika beliau pamit pergi di seperempat awal sidang skripsi gue. *glek* Nyeleneh ya? Haha! Sayang, padahal gue ingin berbagi kemenangan dengan fasilitator gue itu.
Proses belajar untuk menjadi lebih baik itu memang suatu proses yang abadi. Namun yang pasti, kenapa sekarang gue bisa terdampar di jalan hidup gue yang gue pilih ini, sedikit banyak mendapat kontribusi dari interaksi gue dengan beliau. Hal-hal seputar materi macam nilai, daftar kehadiran, dan bahkan uang, terkadang menjadi absurd ketika disandingkan dengan ilmu pengetahuan dan passion terdalam. Belajar untuk berpijak secara benar dengan kekuatan sendiri dan selalu kritis ternyata menjadi salah dua hal penting untuk dapat bertahan hidup di dunia luar. Belum lagi berbagai referensi dari beliau yang berhubungan dengan konsep Archetype Innocent, yang malah membangkitkan archetype tersebut dalam diri gue sampai sekarang.
Mas Eric, terima kasih atas pelajaran akan hidup, (yang mungkin secara tidak sadar) yang telah lo ajarkan ke gue. Gue enggak tahu apakah elo masih akan menjadi seorang pengajar atau tidak. Tapi yang pasti di mata gue, elo selalu tetap menjadi seorang dosen mata kuliah kehidupan di kampus bernama dunia nyata.
Selamat melanjutkan perjalanan, suhu!
Timo (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2005)
Di Suatu Pagi Bertanggal 27 Agustus 2010
#tribute-to-mas-eric-17
Saya hanya pernah sekali diajar oleh pria ini di kelas Psikologi Budaya. Pengalaman sekali seumur hidup yang cukup untuk mengukuhkan satu gelar padanya: SMART. Kepintaran yang justru.. Umm.. Menakutkan! =) . Rasanya apapun bisa dijelaskan olehnya dengan cara yang cerdas dan menunjukkan bahwa ucapannya itu memang berisi. Bukan hanya sekedar pinjam ucapan yang dibaca di sebuah buku bagus. Ucapan yang kadang (oke, sering) membuat lawan bicaranya harus terdiam sebentar dan membiarkan otaknya mencerna apa yang baru saja terjadi.
Jujur, setelah saya lulus dari Psikologi Budaya, saya tidak pernah berpikir akan berinteraksi lagi dengan Mas Erik. Pertama, karena saya tidak masuk jurusan Sosial. Kedua, karena saya takut. Ketakutan ini, entah mengapa, mungkin diterjemahkan oleh alam untuk memanggil Mas Erik sebagai salah satu penguji skripsi saya. Membaca nama Erik Santosa dengan gelar-gelarnya yang saya tidak hafal dalam susunan penguji saya, membuat saya cukup panik dan tidak tahu harus berkata apa. Apalagi mendengar ucapan-ucapan "selamat ya diuji Mas Erik" dengan wajah prihatin dari rekan-rekan saya. Dalam hati: “oke, tamatlah saya”.
Namun sekali lagi, alam punya kejutan lain. Sebelum masa sidang itu berlangsung, saya diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan Mas Erik. Membuat sebuah acara bersama dan berbincang-bincang berdua. Di saat itulah saya baru melihat Mas Erik yang berbeda. Tetap pintar (dan menakutkan), tapi ternyata Mas Erik sangat bersahabat. Kejutan lain datang lewat telepon tidak terduga di suatu pagi bertanggal 27 Agustus 2010. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Sidang Kepribadian, satu hari sebelum saya akan berhadapan dengan Mas Erik sebagai penguji saya.
Mas E: "Lagi di mana?"
Saya: "Mau ke kampus, Mas, sidang kepri."
Mas E: "Udah siap dong?"
Saya: "Belum mas, makanya datang pagian biar ntar bisa baca-baca lagi"
Mas E : "Wi, sidang itu kaya minum kopi tubruk. Rasanya baru enak kalau lo diemin dulu sampai ampas-ampasnya turun, bukan diminum begitu selesai diseduh. Jadi sekarang bukan saatnya lagi lo baca buku karena semua harusnya sudah mengendap. Secara intelektual gue yakin lo bisa, sekarang tinggal gimana lo me-manage emosi sehingga apa yang diendapkan bisa keluar dengan baik. Jadi, have a good rest! Watch good movie! Relax!"
Saya: *tertegun* dan *tersenyum*. “Terima Kasih, Mas.”
Percakapan yang sungguh mengejutkan karena saya tidak pernah mengira, seorang Mas Erik, yang saya takuti itu, menelepon pagi-pagi ke anak yang akan diujinya, lalu memberi saran yang menenangkan. Ya, sangat menenangkan.. =)
Jadi, saya melakukan sesuai yang disarankan. Menutup seluruh perlengkapan perang yang akan saya bawa ke ruang sidang, pakai piyama yang paling enak, ambil posisi di depan sofa, menonton DVD komedi dan tidur nyenyak. Ajaibnya, "ritual" ini membawa ketenangan luar biasa. Saya ingat bahkan saya sama sekali tidak menangis di hari sidang saya itu. Bahkan tidak sedikitpun saat saya dinyatakan lulus sebagai S.Psi. Saya merasa telah melakukan yang terbaik dan saya menutupnya dengan rasa senang luar biasa.
Rasa senang ini tidak sempat saya ucapkan secara langsung pada Mas Erik karena beliau pergi lebih dulu sebelum sidang saya selesai. Saya bahkan tidak sempat menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih atas diskusi dan tambahan ilmu yang saya peroleh selama sidang. Dalam kesempatan ini, maka biarkan saya mengirimkan ucapan TERIMA KASIH setulusnya kepada Mas Erik untuk pengalaman singkat yang sungguh sangat berharga dalam hidup saya. Untuk ilmu-ilmu yang saya boleh serap dalam pertemuan-pertemuan bersama Mas Erik dan mimpi-mimpi yang saya bangun setelah pertemuan itu. Terima kasih karena sudah membuka mata saya dan memberanikan saya keluar dari zona aman saya selama ini.
Semoga saya masih bisa bertemu dan berdiskusi dengan Mas di lain waktu.
Thanks for being SO SMART yet SO WILLING TO SHARE.
You're a great man.
Salam,
Dwiana Hanijayati Wahyudi atau Uwi (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2006)
Saya hanya pernah sekali diajar oleh pria ini di kelas Psikologi Budaya. Pengalaman sekali seumur hidup yang cukup untuk mengukuhkan satu gelar padanya: SMART. Kepintaran yang justru.. Umm.. Menakutkan! =) . Rasanya apapun bisa dijelaskan olehnya dengan cara yang cerdas dan menunjukkan bahwa ucapannya itu memang berisi. Bukan hanya sekedar pinjam ucapan yang dibaca di sebuah buku bagus. Ucapan yang kadang (oke, sering) membuat lawan bicaranya harus terdiam sebentar dan membiarkan otaknya mencerna apa yang baru saja terjadi.
Jujur, setelah saya lulus dari Psikologi Budaya, saya tidak pernah berpikir akan berinteraksi lagi dengan Mas Erik. Pertama, karena saya tidak masuk jurusan Sosial. Kedua, karena saya takut. Ketakutan ini, entah mengapa, mungkin diterjemahkan oleh alam untuk memanggil Mas Erik sebagai salah satu penguji skripsi saya. Membaca nama Erik Santosa dengan gelar-gelarnya yang saya tidak hafal dalam susunan penguji saya, membuat saya cukup panik dan tidak tahu harus berkata apa. Apalagi mendengar ucapan-ucapan "selamat ya diuji Mas Erik" dengan wajah prihatin dari rekan-rekan saya. Dalam hati: “oke, tamatlah saya”.
Namun sekali lagi, alam punya kejutan lain. Sebelum masa sidang itu berlangsung, saya diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan Mas Erik. Membuat sebuah acara bersama dan berbincang-bincang berdua. Di saat itulah saya baru melihat Mas Erik yang berbeda. Tetap pintar (dan menakutkan), tapi ternyata Mas Erik sangat bersahabat. Kejutan lain datang lewat telepon tidak terduga di suatu pagi bertanggal 27 Agustus 2010. Saat itu saya dalam perjalanan menuju Sidang Kepribadian, satu hari sebelum saya akan berhadapan dengan Mas Erik sebagai penguji saya.
Mas E: "Lagi di mana?"
Saya: "Mau ke kampus, Mas, sidang kepri."
Mas E: "Udah siap dong?"
Saya: "Belum mas, makanya datang pagian biar ntar bisa baca-baca lagi"
Mas E : "Wi, sidang itu kaya minum kopi tubruk. Rasanya baru enak kalau lo diemin dulu sampai ampas-ampasnya turun, bukan diminum begitu selesai diseduh. Jadi sekarang bukan saatnya lagi lo baca buku karena semua harusnya sudah mengendap. Secara intelektual gue yakin lo bisa, sekarang tinggal gimana lo me-manage emosi sehingga apa yang diendapkan bisa keluar dengan baik. Jadi, have a good rest! Watch good movie! Relax!"
Saya: *tertegun* dan *tersenyum*. “Terima Kasih, Mas.”
Percakapan yang sungguh mengejutkan karena saya tidak pernah mengira, seorang Mas Erik, yang saya takuti itu, menelepon pagi-pagi ke anak yang akan diujinya, lalu memberi saran yang menenangkan. Ya, sangat menenangkan.. =)
Jadi, saya melakukan sesuai yang disarankan. Menutup seluruh perlengkapan perang yang akan saya bawa ke ruang sidang, pakai piyama yang paling enak, ambil posisi di depan sofa, menonton DVD komedi dan tidur nyenyak. Ajaibnya, "ritual" ini membawa ketenangan luar biasa. Saya ingat bahkan saya sama sekali tidak menangis di hari sidang saya itu. Bahkan tidak sedikitpun saat saya dinyatakan lulus sebagai S.Psi. Saya merasa telah melakukan yang terbaik dan saya menutupnya dengan rasa senang luar biasa.
Rasa senang ini tidak sempat saya ucapkan secara langsung pada Mas Erik karena beliau pergi lebih dulu sebelum sidang saya selesai. Saya bahkan tidak sempat menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih atas diskusi dan tambahan ilmu yang saya peroleh selama sidang. Dalam kesempatan ini, maka biarkan saya mengirimkan ucapan TERIMA KASIH setulusnya kepada Mas Erik untuk pengalaman singkat yang sungguh sangat berharga dalam hidup saya. Untuk ilmu-ilmu yang saya boleh serap dalam pertemuan-pertemuan bersama Mas Erik dan mimpi-mimpi yang saya bangun setelah pertemuan itu. Terima kasih karena sudah membuka mata saya dan memberanikan saya keluar dari zona aman saya selama ini.
Semoga saya masih bisa bertemu dan berdiskusi dengan Mas di lain waktu.
Thanks for being SO SMART yet SO WILLING TO SHARE.
You're a great man.
Salam,
Dwiana Hanijayati Wahyudi atau Uwi (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2006)
"First of all... Try to think OUT OF THE BOX!"
#a-tribute-to-mas-eric-16
Saya gak banyak pengalaman berinteraksi sama Mas Eric.
Cuma sekali saya ikut kelasnya, yakni kelas Metode Kualitatif.
Tapi buat saya, kelas itu sangatlah berkesan.
Satu kata buat Mas Eric: COOL!
Saat itu, setiap kali di kelas deretan mahasiswi bukannya memperhatikan materi kuliah, malah memperhatikan DOSENnya! hahaha..
Cara ngajar Mas Eric itu ajib banget! Butuh kemampuan khusus untuk memahami "ilmu dewa" yang beliau sampaikan.
Walaupun hampir gak pernah memperhatikan materi kuliah, tapi saya selalu memperhatikan pembawa materinya. Kata-kata yang paling melekat di benak saya hingga saat ini adalah "First of all, try to think OUT OF THE BOX!". Yeah, itu kata-kata saktinya Mas Eric yang sangat mengubah pola berpikir saya hingga saat ini.
Setiap kali menghadapi masalah, saya selalu berusaha melihat mana batasan "box" nya, sehingga ada beberapa sudut pandang yang mampu saya tampilkan di otak sebelum mengambil sebuah keputusan. Sederhana, namun penuh makna.
Thanks a lot, Mas Eric!
Regards,
Linda Maysha (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2007)
Saya gak banyak pengalaman berinteraksi sama Mas Eric.
Cuma sekali saya ikut kelasnya, yakni kelas Metode Kualitatif.
Tapi buat saya, kelas itu sangatlah berkesan.
Satu kata buat Mas Eric: COOL!
Saat itu, setiap kali di kelas deretan mahasiswi bukannya memperhatikan materi kuliah, malah memperhatikan DOSENnya! hahaha..
Cara ngajar Mas Eric itu ajib banget! Butuh kemampuan khusus untuk memahami "ilmu dewa" yang beliau sampaikan.
Walaupun hampir gak pernah memperhatikan materi kuliah, tapi saya selalu memperhatikan pembawa materinya. Kata-kata yang paling melekat di benak saya hingga saat ini adalah "First of all, try to think OUT OF THE BOX!". Yeah, itu kata-kata saktinya Mas Eric yang sangat mengubah pola berpikir saya hingga saat ini.
Setiap kali menghadapi masalah, saya selalu berusaha melihat mana batasan "box" nya, sehingga ada beberapa sudut pandang yang mampu saya tampilkan di otak sebelum mengambil sebuah keputusan. Sederhana, namun penuh makna.
Thanks a lot, Mas Eric!
Regards,
Linda Maysha (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2007)
Tell Me Something I Don't Know!
#a-tribute-to-mas-eric-15
Halo Mas Eric!
Saya Zeindy, mahasiswa mas angkatan 2006. Saya yakin kemungkinan 87%, Mas lupa sama saya. Kenapa 87? Karena itu tahun lahir saya, Mas! hehehe. Maap ya ga penting. Tapi setidaknya saya sangat senang kalo kita berpapasan di jalan menuju plaza Semanggi, ataupun di Dunkin, mas masih mau membalas sapaan saya dengan senyuman. Semoga itu menjadi pertanda bahwa kemungkinan 13%, Mas masih ingat dengan saya! Hehehe..
Saya hanya pernah satu kali merasakan keberuntungan menikmati kelas yang diajar Mas. Setelah itu, saya tidak pernah menjadi murid Mas Eric lagi. Hiks.. Namun, harus saya akui bahwa satu kali itu sangat berkesan bagi saya. Hal-hal berkesan yang saya miliki hampir sama dengan yang lain, mulai dari gaya mengajar Mas, gaya bicara Mas yang unforgettable, dan gaya berpikir Mas yang membuka pemikiran banyak orang.
Mungkin tidak banyak kalimat-kalimat Mas yang saya ingat. Maklum saja, sudah empat tahun lebih berlalu sejak saya diajar oleh Mas. Namun saya selalu dapat mengingat kalimat “Tell me something I don’t know!”. Kalimat yang sangat berbekas di pikiran saya sampai saat ini, yang menjadi landasan berpikir saya ketika harus mempresentasikan sesuatu ke orang lain.
Saya harus mengakui, hanya dengan melihat tulisan teman-teman untuk Mas, saya mendapatkan banyak inspirasi dan motivasi untuk dapat mengembangkan diri lebih lagi. Saya mulai mencoba untuk mencintai yang namanya “baca buku”. Walaupun sungguh hal ini tidaklah mudah bagi saya, tapi saya akan tetap berusaha.
Sekian tulisan saya tentang Mas. Semoga berkenan ya.
Saya doakan yang terbaik buat mas ke depannya!
God bless you,
Zeindy (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2006)
Halo Mas Eric!
Saya Zeindy, mahasiswa mas angkatan 2006. Saya yakin kemungkinan 87%, Mas lupa sama saya. Kenapa 87? Karena itu tahun lahir saya, Mas! hehehe. Maap ya ga penting. Tapi setidaknya saya sangat senang kalo kita berpapasan di jalan menuju plaza Semanggi, ataupun di Dunkin, mas masih mau membalas sapaan saya dengan senyuman. Semoga itu menjadi pertanda bahwa kemungkinan 13%, Mas masih ingat dengan saya! Hehehe..
Saya hanya pernah satu kali merasakan keberuntungan menikmati kelas yang diajar Mas. Setelah itu, saya tidak pernah menjadi murid Mas Eric lagi. Hiks.. Namun, harus saya akui bahwa satu kali itu sangat berkesan bagi saya. Hal-hal berkesan yang saya miliki hampir sama dengan yang lain, mulai dari gaya mengajar Mas, gaya bicara Mas yang unforgettable, dan gaya berpikir Mas yang membuka pemikiran banyak orang.
Mungkin tidak banyak kalimat-kalimat Mas yang saya ingat. Maklum saja, sudah empat tahun lebih berlalu sejak saya diajar oleh Mas. Namun saya selalu dapat mengingat kalimat “Tell me something I don’t know!”. Kalimat yang sangat berbekas di pikiran saya sampai saat ini, yang menjadi landasan berpikir saya ketika harus mempresentasikan sesuatu ke orang lain.
Saya harus mengakui, hanya dengan melihat tulisan teman-teman untuk Mas, saya mendapatkan banyak inspirasi dan motivasi untuk dapat mengembangkan diri lebih lagi. Saya mulai mencoba untuk mencintai yang namanya “baca buku”. Walaupun sungguh hal ini tidaklah mudah bagi saya, tapi saya akan tetap berusaha.
Sekian tulisan saya tentang Mas. Semoga berkenan ya.
Saya doakan yang terbaik buat mas ke depannya!
God bless you,
Zeindy (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2006)
He Definitely Made My College Years More Colorful!
#a-tribute-to-mas-eric-14
Wheew, Mas Eric?
What can I say about him?
Dengan tiga mata kuliah selama lima tahun perjalanan gw di FP UAJ (Metodologi Penelitian 1, Metode Kualitatif, dan Psikologi Budaya), serta beberapa momen diskusi dan ngobrol-ngobrol di lt.4, labkom lt.6, hingga kantin, Mas Eric definitely made my college years more colorful!
Gw merasa beruntung banget bisa mengenal sosok dosen yang menurut sebagian besar mahasiswanya absurd dan totally out of the box (lah, itu menurut gw kali ya? Hehe). Buat gw, setiap ketemu dan bicara sama Mas Eric, alam semesta seperti mengingatkan gw untuk terus belajar dan belajar. Untuk terus buka mata dan telinga untuk setiap informasi dan hal-hal unik di sekitar gw, yang belum sempat gw hayati. Menurut gw Mas Eric itu pinterrrr banget! Gw selalu merasa lemot dan kuncup berat karena suka ga nyambung sama obrolannya (maapkeun ya Mas, masih in progress nih! Hehe.)
Maka itu lah, satu momen yang berkesan dulu pas Mas Eric (mungkin beliau sudah lupa nih), memuji jawaban gw atas pertanyaan: "Apa bedanya wawancara sama interogasi?" Pas di kuliah Metode Kualitatif, dia bilang: "Good, very good!" Huahahaha. Rasanya langsung self-esteem meningkat maksimal (berasa pinter mendadak). Dan yap! Mas Eric yang gw inget dulu gak segan-segan kasih apresiasi buat apapun perspektif mahasiswanya. Selalu ada insight-insight baru yg bisa dibawa pulang dan pastinya bikin ganggu tidur (alias kepikiran).
Kangen banget sama masa-masa dulu labkom lt.6 sangat aktif dengan Movielib-nya dan gw masih sering bertemu Mas Eric di salah satu ruangan di sana (dulu masih ada Adih dan Mas Wahyu juga ya Mas! hehe). Mahasiswa-mahasiswanya senang meluangkan waktu barang sejenak untuk bisa bertukar insight, mendengarkan sudut pandang beliau yg suka “Tak Kuduga” (*ala lagu Uthe*), dan di sisi lain menangkap kesan humanis dari diri beliau yang mungkin kurang terekspos di kelas. I always wish I were smarter enough lho Mas, serius. So I can discuss everything and everything (at that time). Wooow! Hampir delapan tahun berlalu sejak gw mengenal Mas Eric. Ckckck.. Time flies..
Semoga ada tahun-tahun mendatang di mana gw bisa punya kesempatan untuk ngobrol-ngobrol lagi sama Mas Eric ya. Semoga bisa jadi kolega beliau! Amin.. *ngarep-dot-com*. Semoga perjalanan ke depannya untuk Mas Eric selalu dimudahkan, dilancarkan, dan disukseskan. Apapun itu.
Thanks a lot Mas. I'm sure temen-temen angkatan gw khususnya (di tahun-tahun dulu pas Mas lg eksis-eksisnya! hahaha) pasti akan mengenang Mas sama baiknya, atau bahkan lebih baik dari apa yg saya sampaikan tadi. We surely gonna miss you, Mas! Wish you all the very best.
Keep rockin' !
Inayah Agustin atau I’in (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2003)
Wheew, Mas Eric?
What can I say about him?
Dengan tiga mata kuliah selama lima tahun perjalanan gw di FP UAJ (Metodologi Penelitian 1, Metode Kualitatif, dan Psikologi Budaya), serta beberapa momen diskusi dan ngobrol-ngobrol di lt.4, labkom lt.6, hingga kantin, Mas Eric definitely made my college years more colorful!
Gw merasa beruntung banget bisa mengenal sosok dosen yang menurut sebagian besar mahasiswanya absurd dan totally out of the box (lah, itu menurut gw kali ya? Hehe). Buat gw, setiap ketemu dan bicara sama Mas Eric, alam semesta seperti mengingatkan gw untuk terus belajar dan belajar. Untuk terus buka mata dan telinga untuk setiap informasi dan hal-hal unik di sekitar gw, yang belum sempat gw hayati. Menurut gw Mas Eric itu pinterrrr banget! Gw selalu merasa lemot dan kuncup berat karena suka ga nyambung sama obrolannya (maapkeun ya Mas, masih in progress nih! Hehe.)
Maka itu lah, satu momen yang berkesan dulu pas Mas Eric (mungkin beliau sudah lupa nih), memuji jawaban gw atas pertanyaan: "Apa bedanya wawancara sama interogasi?" Pas di kuliah Metode Kualitatif, dia bilang: "Good, very good!" Huahahaha. Rasanya langsung self-esteem meningkat maksimal (berasa pinter mendadak). Dan yap! Mas Eric yang gw inget dulu gak segan-segan kasih apresiasi buat apapun perspektif mahasiswanya. Selalu ada insight-insight baru yg bisa dibawa pulang dan pastinya bikin ganggu tidur (alias kepikiran).
Kangen banget sama masa-masa dulu labkom lt.6 sangat aktif dengan Movielib-nya dan gw masih sering bertemu Mas Eric di salah satu ruangan di sana (dulu masih ada Adih dan Mas Wahyu juga ya Mas! hehe). Mahasiswa-mahasiswanya senang meluangkan waktu barang sejenak untuk bisa bertukar insight, mendengarkan sudut pandang beliau yg suka “Tak Kuduga” (*ala lagu Uthe*), dan di sisi lain menangkap kesan humanis dari diri beliau yang mungkin kurang terekspos di kelas. I always wish I were smarter enough lho Mas, serius. So I can discuss everything and everything (at that time). Wooow! Hampir delapan tahun berlalu sejak gw mengenal Mas Eric. Ckckck.. Time flies..
Semoga ada tahun-tahun mendatang di mana gw bisa punya kesempatan untuk ngobrol-ngobrol lagi sama Mas Eric ya. Semoga bisa jadi kolega beliau! Amin.. *ngarep-dot-com*. Semoga perjalanan ke depannya untuk Mas Eric selalu dimudahkan, dilancarkan, dan disukseskan. Apapun itu.
Thanks a lot Mas. I'm sure temen-temen angkatan gw khususnya (di tahun-tahun dulu pas Mas lg eksis-eksisnya! hahaha) pasti akan mengenang Mas sama baiknya, atau bahkan lebih baik dari apa yg saya sampaikan tadi. We surely gonna miss you, Mas! Wish you all the very best.
Keep rockin' !
Inayah Agustin atau I’in (mahasiswinya mas Eric, angkatan 2003)
Baginya Kami Itu Manusia, Bukan Sekedar Mahasiswa
#tribute-to-mas-eric-13
Saya tidak bisa berkata banyak mengenai mas Eric, karena saya tidak mengenalnya dengan dekat sebagai seorang manusia. Saya hanya mengenal mas Eric sebagai dosen saya, yang oleh sebagian besar mahasiswa angkatan saya dianggap sebagai dosen yang absurd, abstrak, dan tidak masuk akal segala rupa ucapannya.
Padahal, bagi saya mas Eric adalah salah satu dosen yang pembicaraannya di kelas paling membumi dan manusiawi. Beliau berbicara kepada kami sebagai manusia, bukan sekedar mahasiswa. Maka kami pun belajar darinya untuk tidak sekedar menjadi mahasiswa, tapi juga menjadi manusia yang merdeka: merdeka dalam pikiran, dan merdeka dalam jiwa. Kemerdekaan yang seringkali berusaha ditekan dan dimatikan oleh berbagai wajah peradaban.
Tanpa mas Eric ketahui, inginkan, atau bahkan mungkin sadari, beliau telah menyentuh dan mengubah kehidupan banyak orang –dalam hal ini mahasiswa- yang cukup beruntung mendapatkan kesempatan bersentuhan dengannya, entah sebagai dosen, pembimbing skripsi, ataupun rekan kerja. Saya rasa kami semua berutang terima kasih yang tulus kepada mas Eric, yang sudah bersedia menjadi rekan seperjalanan bagi kami, jiwa-jiwa yang terperangkap dalam derasnya arus kehidupan masa kini yang serba instan, praktis, dan tidak manusiawi.
Tanpa mas Eric, mungkin banyak dari kami yang tidak akan mendapatkan inspirasi dan pencerahan akibat ucapan atau tindakan beliau yang seringkali mengejutkan sekaligus tak terduga, namun berisi pesan yang amat kuat dan mendalam.
Kemanapun kehidupan membawa mas Eric selanjutnya, saya berharap semoga beliau selalu dapat membawa kebaikan, baik melalui ucapan maupun tindakannya. Dan semoga kami-kami yang bukan siapa-siapa ini juga dapat membawa kebaikan, tidak hanya kepada diri kami sendiri namun juga kepada orang lain. Sebagaimana yang telah mas Eric lakukan, dengan membawa begitu banyak kebaikan kepada kami.
Salam,
Zaldi Hamdani (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2004)
Saya tidak bisa berkata banyak mengenai mas Eric, karena saya tidak mengenalnya dengan dekat sebagai seorang manusia. Saya hanya mengenal mas Eric sebagai dosen saya, yang oleh sebagian besar mahasiswa angkatan saya dianggap sebagai dosen yang absurd, abstrak, dan tidak masuk akal segala rupa ucapannya.
Padahal, bagi saya mas Eric adalah salah satu dosen yang pembicaraannya di kelas paling membumi dan manusiawi. Beliau berbicara kepada kami sebagai manusia, bukan sekedar mahasiswa. Maka kami pun belajar darinya untuk tidak sekedar menjadi mahasiswa, tapi juga menjadi manusia yang merdeka: merdeka dalam pikiran, dan merdeka dalam jiwa. Kemerdekaan yang seringkali berusaha ditekan dan dimatikan oleh berbagai wajah peradaban.
Tanpa mas Eric ketahui, inginkan, atau bahkan mungkin sadari, beliau telah menyentuh dan mengubah kehidupan banyak orang –dalam hal ini mahasiswa- yang cukup beruntung mendapatkan kesempatan bersentuhan dengannya, entah sebagai dosen, pembimbing skripsi, ataupun rekan kerja. Saya rasa kami semua berutang terima kasih yang tulus kepada mas Eric, yang sudah bersedia menjadi rekan seperjalanan bagi kami, jiwa-jiwa yang terperangkap dalam derasnya arus kehidupan masa kini yang serba instan, praktis, dan tidak manusiawi.
Tanpa mas Eric, mungkin banyak dari kami yang tidak akan mendapatkan inspirasi dan pencerahan akibat ucapan atau tindakan beliau yang seringkali mengejutkan sekaligus tak terduga, namun berisi pesan yang amat kuat dan mendalam.
Kemanapun kehidupan membawa mas Eric selanjutnya, saya berharap semoga beliau selalu dapat membawa kebaikan, baik melalui ucapan maupun tindakannya. Dan semoga kami-kami yang bukan siapa-siapa ini juga dapat membawa kebaikan, tidak hanya kepada diri kami sendiri namun juga kepada orang lain. Sebagaimana yang telah mas Eric lakukan, dengan membawa begitu banyak kebaikan kepada kami.
Salam,
Zaldi Hamdani (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2004)
Don't Judge A Book By It's Cover!
#tribute-to-mas-eric-12
Mas Eric yah?
Hmm... Gak gitu kenal sih.
Bahkan dulu kalo gak liat fotonya di sekretariat lantai 4, gw kagak bakalan tau doi itu orangnya yang mana.
Well, singkat saja dari gw, mas Eric itu bener-bener contoh kasus dari kalimat bijak yang berbunyi:
"Don't judge a book by it's cover!"
Biar doi jarang ke kelas,
Biar doi seringnya ke Dunkin (kalo kata temen-temen peminatan Sosial),
tapi otak doi itu brilian banget, kayak berlian.
Gw kadang amaze banget kalo ngedenger cerita temen-temen gw tentang doi.
Kok mau-maunya sih doi ngajar di universitas, yang gedungnya aja dari dulu "sementara" terus?
Ah, ya sudah lah.
That would be all from me.
Four thumbs for him!
Salam,
Diaz Nugroho (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Mas Eric yah?
Hmm... Gak gitu kenal sih.
Bahkan dulu kalo gak liat fotonya di sekretariat lantai 4, gw kagak bakalan tau doi itu orangnya yang mana.
Well, singkat saja dari gw, mas Eric itu bener-bener contoh kasus dari kalimat bijak yang berbunyi:
"Don't judge a book by it's cover!"
Biar doi jarang ke kelas,
Biar doi seringnya ke Dunkin (kalo kata temen-temen peminatan Sosial),
tapi otak doi itu brilian banget, kayak berlian.
Gw kadang amaze banget kalo ngedenger cerita temen-temen gw tentang doi.
Kok mau-maunya sih doi ngajar di universitas, yang gedungnya aja dari dulu "sementara" terus?
Ah, ya sudah lah.
That would be all from me.
Four thumbs for him!
Salam,
Diaz Nugroho (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Contras-Effect Versi Mas Eric
#tribute-to-mas-eric-11
Pertama kali gw tau dosen ini pas kelas Metode Penelitian II (Metpen II). Saat itu gw diajar mas Eric dengan sangat mengerikan, sampe-sampe gw tercengang. Apanya yang mengerikan? Ya apa lagi sih kalo bukan disampah-sampahinnya. Dengan gayanya yang khas: Duduk di atas meja, kaki diangkat tinggi-tinggi, sambil berkata: "Paper kalian semua sampah!"
Waktu itu gw mikir: "Anjrit! Gw ga mau diajar sama dia lagi. Serem chuy! Tapi emang takdir berkata lain. hahaha.. Gw malah tertarik buat ikut "Hadjatan SiMbok" yang dibuat sama beliau. Dan di sana, sekali lagi gw dibuat tercengang-cengang oleh beliau. Bukan... Kali ini bukan tercengang seperti di kelas Metpen II dulu. Kali ini gw tercengang karena: “Lho kok dia jadi baik hati dan manis begini sih omongannya??”. Kalo kata orang, contrast-effect bisa bikin terpikat. Nah, hal itulah yang sukses terjadi sama gw saat melihat si mas Eric ini. Awalnya gw pikir berhadapan sama dia gw mesti siap mental banget. Tapi nyatanya itu ga terjadi tuh. Yep! Mas Eric yang gw kenal di Hadjatan SiMbok beda banget sama mas Eric sang dosen Metpen II gw dulu. Dia adalah sosok “guru” pertama yang bisa membuat gw merasa kayak sampah, tapi tetep berguna. Sebelum-sebelumnya, guru-guru yang gw temui hanya mampu membuat gw merasa diri gw itu sampah yang ga ada gunanya.
Terlalu banyak memori berkesan tentang dia yang gw ga tau gimana harus ceritainnya. Mulai dari dia yang selalu cengengesan tiap ngeliat gw dan bikin gw mikir: "Kenapa sih lo mas ketawa-ketawa mulu??". Sampe adegan pas evaluasi dia sangat manis, sabar, dan pengertian mengurus anaknya si Aksa yang bikin gw terpesona. "Anjrit! Gw ga nyangka dosen kaya dia yang biasanya keras kok sama anaknya jadi lembut baik hati kaya hello kitty gini??". Dan saat itupun dia sukses jadi sosok “ayah” idaman gw. Bukan karena bokap asli gw ga baik ye, tapi karena menurut gw jarang banget ada seorang bapak yang mampu berkomunikasi sama anak laki-lakinya dengan lancar. Tetap tegas berwibawa, tapi sekaligus penuh kasih.
Mulai dari perkataan dia yang bilang gw ini bakat desain baju (astaga mas, bakat sih mungkin ada kali ya, tapi passion gw bukan di sana! Ga cinta gw ngedesain baju. Walaupun gw cinta melihat baju cantik! Hahaha). Sampe ke adegan curhat-curhat dia sehabis mumet entah dari mana dan bertemu siapa. Biasanya dia mulai dengan kalimat berikut: “Ah Liv! Lo ada di sini. Akhirnya gw melihat sesuatu yang cerah setelah hari gw yang buruk dari tadi.” Dan mulailah dia bercerita panjang lebar (tapi tetap menarik), karena apa yang dia bicarakan membuat gw perlahan-lahan memahami jalan pikiran dan ide-ide dia yang ajaib.
Mulai dari kebiasaan dia yang selalu penuh semangat menunjukkan ke gw bahan-bahan kain yang baru dateng, beserta ide-ide akan dijadikan apa kain tersebut. Sampe adegan dia yang selalu penuh semangat 45 fashion show kalo lagi pake baju dan celana baru hasil karya siMbok. Yep mas! Lo emang manekin berjalan ye. Terberkatilah lo karena udah dikaruniai postur tubuh yang proposional dan cukup ideal! hahahaha…
Gw juga inget momen di mana dia bilang teh buatan gw lebih enak daripada buatan Leo (padahal jelas-jelas teh itu gw bikin dengan sangat ngaco! Hahahaha). Gw jadi memikirkan sebuah pertanyaan, mas: "Lo tau kalo gw orang yang ga pede-an, dan sengaja mau bikin self-esteem gw meningkat yah?". Apapun itu, ya gw thanks banget ama lo mas. Karena lo salah satu dari sedikit orang, yang sukses mengubah gw yang tadinya ga pernah berani ngomong di depan orang banyak, jadi punya keberanian buat ngomong (walaupun masih butuh usaha keras.)
Ada juga saat di mana dia ngetawain gw bahagia, pas tau gw baru aja jadian. Sambil nyelamatin gw dengan hebohnya, dia pun berkata: "Kok lo mau si Liv?? Kan “dia” culun! hahahaha". Sumpah mas, ngakak gw ngeliat cara lo menilai para lelaki selain diri lo sendiri. Kalo ga dikatain banci, ya dikatain culun. Gw membayangkan kalo Reza nanti uda gede dan punya pacar, pacarnya bakal jiper banget kali ya sama lo? hahaha.
Gw juga inget banget lo selalu bilang gw aneh mas. Gw ga suka asep rokok tapi malah duduk manis sama lo dan anak-anak lain di siMbok. Saat kalian lagi ngerokok ya gw cuma bisa diem sambil tutup idung dan kipas-kipas berusaha napas. Itu gw lakukan karena gw suka ngedenger pembicaraan lo mas. Menurut gw banyak banget pembelajaran yang bisa gw dapetin dari cerita-cerita lo mengenai pengalaman maupun ide-ide lo. Makanya, gw tetep bela-belain ngedenger lo meskipun napas gw jadi pendek. Hahaha.
Gw juga ga bakal lupa waktu itu lo pernah ngerasa ga ngerti apa yang ada di pikiran kita-kita ini. Juga bingung kenapa tiap kali lo ngomong, kita cuma diem sambil cengengesan ga jelas. Saat itu lo sama skali no idea apa yang ada di kepala kita. Gw ga tau kalo yang lain gimana ya, tapi kalo gw pribadi, gw diem cengengesan karena gw udah ga tau lagi mau nanggepin apa. Ide lo itu terlalu brilian, sampe gw akhirnya bingung sendiri kok lo bisa mikir begitu sih? Ajarin gw dong caranya. Hahaha. Intinya, gw ngerti apa yang lo bicarain kok, gw cuma dibikin ga bisa berkomentar aja sama lo. haha..
Mas, gw masih berharap kalo lo ga akan berhenti ngajar. Gw inget perkataan lo yang bilang kalo kita-kita para mahasiswa ini jauh lebih berharga di mata lo. Dan lo juga ga akan berhenti ngajar kita-kita ini cuma gara-gara kebusukan yang ada "di atas”. Tapi, apapun keputusan lo, ya gw hargai itu mas. Sukses ya buat batik lo.
Terima kasih banget karena selama ini lo memperlakukan kami dengan baik.
Terima kasih banget atas segudang saran, nasehat, cerita, ilmu, ide, becandaan, konyol-konyolan, juga mimpi-mimpi yang uda lo bagi ke gw.
Gw pribadi akan sangat merindukan lo nantinya. Rindu mendengar dan melihat suara lo dengan cara mengajar lo yang khas.
Thanks mas... Karena udah mau berbagi banyak hal di atas ke gw.. =)
Salam,
Olivia Putri (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
*ps: Pas gw jalan-jalan ke mal, di alun-alun banyak bahan baju batik di sana ada di siMbok. Bedanya di siMbok masih berupa kain, kalo di alun-alun udah jadi baju cantik. Good luck mas! =)
"Untuk dosen sekaligus ayah idaman saya, beliau tidak pernah menuntut murid-muridnya untuk patuh dan menghargai beliau. Perilaku beliaupun selalu sesuka hatinya. Tetapi justru itulah yang membuat beliau menjadi sosok dosen dan ayah yang sangat saya hormati dan idamkan."
Pertama kali gw tau dosen ini pas kelas Metode Penelitian II (Metpen II). Saat itu gw diajar mas Eric dengan sangat mengerikan, sampe-sampe gw tercengang. Apanya yang mengerikan? Ya apa lagi sih kalo bukan disampah-sampahinnya. Dengan gayanya yang khas: Duduk di atas meja, kaki diangkat tinggi-tinggi, sambil berkata: "Paper kalian semua sampah!"
Waktu itu gw mikir: "Anjrit! Gw ga mau diajar sama dia lagi. Serem chuy! Tapi emang takdir berkata lain. hahaha.. Gw malah tertarik buat ikut "Hadjatan SiMbok" yang dibuat sama beliau. Dan di sana, sekali lagi gw dibuat tercengang-cengang oleh beliau. Bukan... Kali ini bukan tercengang seperti di kelas Metpen II dulu. Kali ini gw tercengang karena: “Lho kok dia jadi baik hati dan manis begini sih omongannya??”. Kalo kata orang, contrast-effect bisa bikin terpikat. Nah, hal itulah yang sukses terjadi sama gw saat melihat si mas Eric ini. Awalnya gw pikir berhadapan sama dia gw mesti siap mental banget. Tapi nyatanya itu ga terjadi tuh. Yep! Mas Eric yang gw kenal di Hadjatan SiMbok beda banget sama mas Eric sang dosen Metpen II gw dulu. Dia adalah sosok “guru” pertama yang bisa membuat gw merasa kayak sampah, tapi tetep berguna. Sebelum-sebelumnya, guru-guru yang gw temui hanya mampu membuat gw merasa diri gw itu sampah yang ga ada gunanya.
Terlalu banyak memori berkesan tentang dia yang gw ga tau gimana harus ceritainnya. Mulai dari dia yang selalu cengengesan tiap ngeliat gw dan bikin gw mikir: "Kenapa sih lo mas ketawa-ketawa mulu??". Sampe adegan pas evaluasi dia sangat manis, sabar, dan pengertian mengurus anaknya si Aksa yang bikin gw terpesona. "Anjrit! Gw ga nyangka dosen kaya dia yang biasanya keras kok sama anaknya jadi lembut baik hati kaya hello kitty gini??". Dan saat itupun dia sukses jadi sosok “ayah” idaman gw. Bukan karena bokap asli gw ga baik ye, tapi karena menurut gw jarang banget ada seorang bapak yang mampu berkomunikasi sama anak laki-lakinya dengan lancar. Tetap tegas berwibawa, tapi sekaligus penuh kasih.
Mulai dari perkataan dia yang bilang gw ini bakat desain baju (astaga mas, bakat sih mungkin ada kali ya, tapi passion gw bukan di sana! Ga cinta gw ngedesain baju. Walaupun gw cinta melihat baju cantik! Hahaha). Sampe ke adegan curhat-curhat dia sehabis mumet entah dari mana dan bertemu siapa. Biasanya dia mulai dengan kalimat berikut: “Ah Liv! Lo ada di sini. Akhirnya gw melihat sesuatu yang cerah setelah hari gw yang buruk dari tadi.” Dan mulailah dia bercerita panjang lebar (tapi tetap menarik), karena apa yang dia bicarakan membuat gw perlahan-lahan memahami jalan pikiran dan ide-ide dia yang ajaib.
Mulai dari kebiasaan dia yang selalu penuh semangat menunjukkan ke gw bahan-bahan kain yang baru dateng, beserta ide-ide akan dijadikan apa kain tersebut. Sampe adegan dia yang selalu penuh semangat 45 fashion show kalo lagi pake baju dan celana baru hasil karya siMbok. Yep mas! Lo emang manekin berjalan ye. Terberkatilah lo karena udah dikaruniai postur tubuh yang proposional dan cukup ideal! hahahaha…
Gw juga inget momen di mana dia bilang teh buatan gw lebih enak daripada buatan Leo (padahal jelas-jelas teh itu gw bikin dengan sangat ngaco! Hahahaha). Gw jadi memikirkan sebuah pertanyaan, mas: "Lo tau kalo gw orang yang ga pede-an, dan sengaja mau bikin self-esteem gw meningkat yah?". Apapun itu, ya gw thanks banget ama lo mas. Karena lo salah satu dari sedikit orang, yang sukses mengubah gw yang tadinya ga pernah berani ngomong di depan orang banyak, jadi punya keberanian buat ngomong (walaupun masih butuh usaha keras.)
Ada juga saat di mana dia ngetawain gw bahagia, pas tau gw baru aja jadian. Sambil nyelamatin gw dengan hebohnya, dia pun berkata: "Kok lo mau si Liv?? Kan “dia” culun! hahahaha". Sumpah mas, ngakak gw ngeliat cara lo menilai para lelaki selain diri lo sendiri. Kalo ga dikatain banci, ya dikatain culun. Gw membayangkan kalo Reza nanti uda gede dan punya pacar, pacarnya bakal jiper banget kali ya sama lo? hahaha.
Gw juga inget banget lo selalu bilang gw aneh mas. Gw ga suka asep rokok tapi malah duduk manis sama lo dan anak-anak lain di siMbok. Saat kalian lagi ngerokok ya gw cuma bisa diem sambil tutup idung dan kipas-kipas berusaha napas. Itu gw lakukan karena gw suka ngedenger pembicaraan lo mas. Menurut gw banyak banget pembelajaran yang bisa gw dapetin dari cerita-cerita lo mengenai pengalaman maupun ide-ide lo. Makanya, gw tetep bela-belain ngedenger lo meskipun napas gw jadi pendek. Hahaha.
Gw juga ga bakal lupa waktu itu lo pernah ngerasa ga ngerti apa yang ada di pikiran kita-kita ini. Juga bingung kenapa tiap kali lo ngomong, kita cuma diem sambil cengengesan ga jelas. Saat itu lo sama skali no idea apa yang ada di kepala kita. Gw ga tau kalo yang lain gimana ya, tapi kalo gw pribadi, gw diem cengengesan karena gw udah ga tau lagi mau nanggepin apa. Ide lo itu terlalu brilian, sampe gw akhirnya bingung sendiri kok lo bisa mikir begitu sih? Ajarin gw dong caranya. Hahaha. Intinya, gw ngerti apa yang lo bicarain kok, gw cuma dibikin ga bisa berkomentar aja sama lo. haha..
Mas, gw masih berharap kalo lo ga akan berhenti ngajar. Gw inget perkataan lo yang bilang kalo kita-kita para mahasiswa ini jauh lebih berharga di mata lo. Dan lo juga ga akan berhenti ngajar kita-kita ini cuma gara-gara kebusukan yang ada "di atas”. Tapi, apapun keputusan lo, ya gw hargai itu mas. Sukses ya buat batik lo.
Terima kasih banget karena selama ini lo memperlakukan kami dengan baik.
Terima kasih banget atas segudang saran, nasehat, cerita, ilmu, ide, becandaan, konyol-konyolan, juga mimpi-mimpi yang uda lo bagi ke gw.
Gw pribadi akan sangat merindukan lo nantinya. Rindu mendengar dan melihat suara lo dengan cara mengajar lo yang khas.
Thanks mas... Karena udah mau berbagi banyak hal di atas ke gw.. =)
Salam,
Olivia Putri (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
*ps: Pas gw jalan-jalan ke mal, di alun-alun banyak bahan baju batik di sana ada di siMbok. Bedanya di siMbok masih berupa kain, kalo di alun-alun udah jadi baju cantik. Good luck mas! =)
Ketika Keren, Galak, dan Abstrak Jadi Satu
#tribute-to-mas-eric-10
Pada suatu hari, seusai mengikuti kuliah Metode Penelitian I, segerombolan mahasiswa baru, termasuk saya, berkumpul di depan kelas yang terletak di gedung yang acap kali disebut BKS. Layaknya lulusan SMA yang baru mendapatkan status mahasiswa, topik pembicaraan kami pada saat itu tidak jauh dari dosen, khususnya Mas Eric. Beliau ini waktu itu baru saja memberikan kami tugas untuk menonton sebuah episode dari serial televisi CSI. Kesan pertama kami, 'Wah keren, tugasnya disuruh nonton!!'. Itulah kesan awal saya terhadap mata kuliah Metpen I: "KEREN".
Seiring dengan berlangsungnya perkuliahan di semester pertama, saya dan beberapa teman saya mendapat kesan bahwa beliau galak dan terlalu abstrak. Namun kami semua setuju bahwa beliau itu kritis. Beliau juga mengharapkan kami, mahasiswa yang diajar olehnya pada saat itu, turut menjadi kritis.
Dua tahun berlalu, saya kembali ke kelas yang sama dan mengikuti perkuliahan Mas Eric selama dua semester. Saat itu saya bukan lagi mahasiswa baru, namun bersama dengan dua orang teman saya, kami menjadi asisten dosen beliau untuk mata kuliah tersebut. Tak banyak yang berubah dalam perkuliahan itu, selain penjelasan berbagai konsep dengan menggunakan contoh yang lebih up-to-date bila dibandingkan saat dulu mengajar angkatan saya. Hanya sedikit pengetahuan saya yang bertambah mengenai pribadi mas Eric, namun di saat yang bersamaan, ada jauh lebih banyak hal yang saya pelajari dari perkuliahannya selama satu tahun tersebut.
Dua tahun belakangan ini, saya kembali bertemu dengan konsep-konsep penelitian yang telah diperkenalkan oleh Mas Eric hampir tujuh tahun yang lalu. Hingga saat ini, saya masih belajar dan terkadang tak luput dari usaha mengorek-ngorek ingatan saya tentang isi perkuliahan beliau. Ada satu hal lain yang saya sadari dan baru dapat saya ungkapkan, mengenai ketertarikan saya terhadap perkuliahan mas Eric di luar label ‘keren’ yang saya sebutkan sebelumnya. Dalam perkuliahannya, ia tak sekedar mengajar agar kami mengerti, tetapi juga mendidik kami agar menjadi kritis. Beliau mendorong kami untuk terus memperkaya diri dengan pengetahuan baru dan mengkritisi segala hal.
Kesan galak di awal hanya sebatas persepsi saya sebagai mahasiswa baru saja. Begitu pula dengan kesan bahwa beliau terlalu abstrak. Bisa jadi label 'terlalu abstrak' tersebut kami ciptakan untuk memudahkan saya dan rekan-rekan saja. Kini, jika dipikirkan kembali, saya lebih tertarik dengan pemikiran bahwa "Jangan-jangan dulu itu otak saya saja yang belum 'nyampe'".
Anyway (kata-kata yang sering digunakan oleh mas Eric ketika perkuliahan berlangsung), saya ingin berterima kasih pada beliau atas didikan yang terbilang singkat namun sangat berkesan bagi kami. Mewakili teman-teman lain yang juga ada dalam tulisan ini, saya mengucapkan selamat menempuh lembaran baru kepada Mas Eric. Mungkin ketika jalan kita bersimpangan lagi, ada hal baru lainnya yang dapat kami pelajari.
Saya yakin berakhirnya masa mengajar di Fakultas Psikologi Atma Jaya, bukanlah sebuah akhiran bagi beliau, melainkan merupakan awal dari perjalanan baru untuk memperluas didikannya. Selamat berpetualang, mas!
Salam,
Irene Raflesia (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2004)
*ditulis oleh seorang mahasiswi yang cukup penasaran apakah Mas Eric masih menggunakan tas yang menjadi ciri khasnya dulu.
Pada suatu hari, seusai mengikuti kuliah Metode Penelitian I, segerombolan mahasiswa baru, termasuk saya, berkumpul di depan kelas yang terletak di gedung yang acap kali disebut BKS. Layaknya lulusan SMA yang baru mendapatkan status mahasiswa, topik pembicaraan kami pada saat itu tidak jauh dari dosen, khususnya Mas Eric. Beliau ini waktu itu baru saja memberikan kami tugas untuk menonton sebuah episode dari serial televisi CSI. Kesan pertama kami, 'Wah keren, tugasnya disuruh nonton!!'. Itulah kesan awal saya terhadap mata kuliah Metpen I: "KEREN".
Seiring dengan berlangsungnya perkuliahan di semester pertama, saya dan beberapa teman saya mendapat kesan bahwa beliau galak dan terlalu abstrak. Namun kami semua setuju bahwa beliau itu kritis. Beliau juga mengharapkan kami, mahasiswa yang diajar olehnya pada saat itu, turut menjadi kritis.
Dua tahun berlalu, saya kembali ke kelas yang sama dan mengikuti perkuliahan Mas Eric selama dua semester. Saat itu saya bukan lagi mahasiswa baru, namun bersama dengan dua orang teman saya, kami menjadi asisten dosen beliau untuk mata kuliah tersebut. Tak banyak yang berubah dalam perkuliahan itu, selain penjelasan berbagai konsep dengan menggunakan contoh yang lebih up-to-date bila dibandingkan saat dulu mengajar angkatan saya. Hanya sedikit pengetahuan saya yang bertambah mengenai pribadi mas Eric, namun di saat yang bersamaan, ada jauh lebih banyak hal yang saya pelajari dari perkuliahannya selama satu tahun tersebut.
Dua tahun belakangan ini, saya kembali bertemu dengan konsep-konsep penelitian yang telah diperkenalkan oleh Mas Eric hampir tujuh tahun yang lalu. Hingga saat ini, saya masih belajar dan terkadang tak luput dari usaha mengorek-ngorek ingatan saya tentang isi perkuliahan beliau. Ada satu hal lain yang saya sadari dan baru dapat saya ungkapkan, mengenai ketertarikan saya terhadap perkuliahan mas Eric di luar label ‘keren’ yang saya sebutkan sebelumnya. Dalam perkuliahannya, ia tak sekedar mengajar agar kami mengerti, tetapi juga mendidik kami agar menjadi kritis. Beliau mendorong kami untuk terus memperkaya diri dengan pengetahuan baru dan mengkritisi segala hal.
Kesan galak di awal hanya sebatas persepsi saya sebagai mahasiswa baru saja. Begitu pula dengan kesan bahwa beliau terlalu abstrak. Bisa jadi label 'terlalu abstrak' tersebut kami ciptakan untuk memudahkan saya dan rekan-rekan saja. Kini, jika dipikirkan kembali, saya lebih tertarik dengan pemikiran bahwa "Jangan-jangan dulu itu otak saya saja yang belum 'nyampe'".
Anyway (kata-kata yang sering digunakan oleh mas Eric ketika perkuliahan berlangsung), saya ingin berterima kasih pada beliau atas didikan yang terbilang singkat namun sangat berkesan bagi kami. Mewakili teman-teman lain yang juga ada dalam tulisan ini, saya mengucapkan selamat menempuh lembaran baru kepada Mas Eric. Mungkin ketika jalan kita bersimpangan lagi, ada hal baru lainnya yang dapat kami pelajari.
Saya yakin berakhirnya masa mengajar di Fakultas Psikologi Atma Jaya, bukanlah sebuah akhiran bagi beliau, melainkan merupakan awal dari perjalanan baru untuk memperluas didikannya. Selamat berpetualang, mas!
Salam,
Irene Raflesia (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2004)
*ditulis oleh seorang mahasiswi yang cukup penasaran apakah Mas Eric masih menggunakan tas yang menjadi ciri khasnya dulu.
Dosen yang Membuat Saya Makin Kecanduan Baca
#tribute-to-mas-eric-09
Bagian Satu: Tentang Membaca.
Sejak SD saya memang sudah senang membaca. Segala macam buku saya lahap. Mulai dari ensiklopedi sampai buku bergambar tentang ilmu pengetahuan alam. Komik pun sering saya baca. Kesukaan saya membaca buku ini melebihi kesukaan saya untuk bergaul dengan orang lain, sehingga boleh dibilang sebagian besar masa sekolah saya, saya habiskan untuk membaca buku.
Namun ketika saya masuk Fakultas Psikologi UAJ, terutama semester-semester awal, frekuensi membaca saya berkurang. Ini karena saya terlalu asyik bermain dengan teman-teman kuliah (sepertinya untuk mengkompensasikan waktu bermain saya yang "hilang" di saat saya masih kecil). Selain itu saya juga terlalu fokus pada buku-buku teks ilmu Psikologi yang harus saya pelajari. Kebiasaan saya membaca buku-buku
pengetahuan umum pun sangat berkurang, sehingga pengetahuan umum saya, terutama yang berhubungan dengan ilmu Sosial, sangatlah miskin.
Saya tidak mengerti secara komprehensif tentang tragedi Tanjung Priok, tragedi Santa Cruz, saya bahkan sudah lupa tentang sejarah penjajahan bangsa Indonesia dan bagaimana bangsa Indonesia kemudian mulai bangkit dan berjuang untuk meraih kemerdekaan. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk masuk ke peminatan Psikologi Sosial. Hal tersebut saya lakukan karena:
1. Saya mulai tertarik pada isu isu sosial-budaya karena mengikuti kuliah bu Nani Nurrachman, bu Bernadette Setiadi, dan bu Hana Panggabean;
2. Saya menyadari bahwa pengetahuan dan cara berpikir saya saat berusaha memahami bidang sosial-budaya masih sangat minim.
Pada umumnya, dari semua kelas di peminatan sosial, saya mendapatkan banyak masukan baru mengenai cara berpikir dan pengetahuan informatif untuk berkiprah di bidang Sosial. Namun ada satu mata kuliah yang di dalamnya saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan umum saja, tetapi juga saran-saran praktis tentang cara mengembangkan pengetahuan, cara pandang, dan juga wawasan saya. Kuliah tersebut bernama Teori Aktivitas Manusia. Dan pengajarnya adalah mas Eric M. Santosa.
Pada awal kuliah tersebut, jujur saya sempat merasa sedikit terintimidasi oleh cara mengajar beliau. Karena dari cara berbicara dan berpikir beliau, saya melihat bahwa beliau jauh lebih superior daripada saya dan rekan-rekan mahasiswa yang lain. Sehingga saya sungguh merasa malu apabila menjawab pertanyaan dengan salah dan kemudian tampak bodoh.
Momen yang paling berkesan di dalam kelas dan juga kemudian berpengaruh pada perubahan perilaku saya terjadi pada sebuah sesi presentasi di mana mas Eric bertanya pada mahasiswa di kelas: "Elu baca apa aja, goblok??". Saya agak kaget saat mendengar pertanyaan tersebut. Juga merasa terganggu dengan pilihan kata yang beliau gunakan. Namun setelah direnungkan kembali, saya rasa sama sekali tidak ada yang salah dengan pilihan kata yang beliau gunakan. Secara pribadi saya sadar bahwa saya masih "kosong". Belum memiliki banyak pengetahuan.
Sempat saya merasa kecil hati karena menyadari betapa "kosong"nya pikiran saya. Namun untungnya, beliau kemudian memberi tahu cara untuk mengisi kekosongan pikiran tersebut, yaitu dengan cara membaca buku, terutama di bidang sosial. Yang paling berkesan bagi saya adalah pesan beliau sebagai berikut (bukan kutipan persis, tapi intinya ya seperti yang saya tuliskan di bawah ini):
"Jangan pikir gara gara elu orang Psikologi, elu gak perlu belajar demografi, sosiologi dan lain lain ya. PSIKOLOGI ITU KOSONG KALAU GAK DIBARENGIN DENGAN PENGETAHUAN TENTANG ILMU YANG LAIN."
(nah bagian yang ditulis dalam huruf kapital itulah, kalimat yang kemudian membuat gue sadar tentang pentingnya mengisi diri dengan pengetahuan lain selain ilmu Psikologi!)
dan satu kutipan lagi:
"Orang yang tidak tahu sejarahnya adalah orang yang tidak punya identitas"
(gara2 kalimat ini gue membeli bukunya Adam Schwarz berjudul 'A Nation in Waiting', juga bukunya Bernard Vlekke berjudul 'Nusantara')
Beberapa kalimat yang dilontarkan pada saat kuliah ternyata bisa mengubah perilaku saya secara signifikan. Saya jadi rajin membaca. Selain untuk menghindari sapaan "sampah", saya juga jadi rajin membaca supaya punya banyak ilmu yang bisa membantu saya saat berkiprah di bidang Sosial selepas kuliah. Sejak kuliah bersama mas Eric di semester 6 tersebut, saya menjadi seorang pembaca yang agresif, terutama di bidang ilmu Sosial. Dalam sehari saya bisa membaca hingga 100 halaman, ketika sedang tidak diganggu dengan kegiatan lain yang menyita waktu.
Ternyata kebiasaan membaca juga menjadi suatu hal yang menyenangkan terutama saat melewati kemacetan. Lama-kelamaan daripada duduk melamun saat menghadapi jalanan Cirendeu yang macet total pukul 7 pagi, saya membawa buku dan membaca di dalam angkot. Saat membaca, saya selalu ingat pertanyaan mas Eric: "Elu baca apa aja? Goblok!". Ternyata membaca itu asyik sekali dan membantu saya memperbaiki sistematika berbicara saya saat berhadapan dengan orang lain.
Bagian Dua: Tentang Pekerjaan
Saya sering mendengar pengalaman mas Eric sebagai peneliti, terutama peneliti kualitatif di bidang social marketing. Saya sendiri tidak pernah berencana untuk menjadi peneliti saat masih kuliah. Pekerjaan impian saya adalah menjadi pembicara. Namun belakangan ini saya mendapat tawaran untuk bekerja di bidang riset kualitatif pada sebuah perusahaan di Jakarta. Saya mendaftarkan diri untuk pekerjaan tersebut dan dipanggil untuk tes tertulis.
Ternyata soal yang diberikan saat tertulis adalah verbatim FGD dari sebuah penggalian data riset pasar. Juga analisis mengenai standpoint sebuah iklan di majalah. Tes tertulis itu saya jalani pada 18 April 2011, sekian bulan setelah saya mengikuti kuliahnya Mas Eric. Namun entah mengapa saat saya harus menganalisis verbatim FGD, tiba-tiba konsep brand awareness yang pernah diberikan oleh mas Eric di kelas SDSA muncul di kepala saya. Persisnya mengenai tahapan AITA atau Awareness, Interest, Trying, dan Adopting. Dengan framework tersebut saya melakukan analisis terhadap verbatim yang disodorkan pada saya, lalu memberikan kritik, kesimpulan, serta rekomendasi terhadap proses FGD yang dijadikan soal.
Kemudian untuk analisis iklan saya tiba-tiba teringat teori Aktivitas Manusia tentang instrumen, objek, dan juga materi tentang standpoint sebuah brand dan organisasi. Berdasarkan framework tersebut saya melakukan analisis, dengan mengingat-ingat contoh yang pernah diberikan oleh mas Eric di kelas. Dua minggu kemudian, saya mendapatkan telepon yang menyatakan bahwa saya lolos tes tertulis dan akan diwawancara oleh direktur riset kualitatif di perusahaan tersebut.
Apakah saya akan lolos wawancara tersebut? Saya belum tahu pasti. Tetapi saya ingin membagikan pengalaman ini. Siapa tahu mas Eric akan senang waktu tahu bahwa materi kuliah yang pernah beliau berikan di kelas, telah membantu saya lolos tes tertulis di sebuah perusahaan riset. Sekian kesan saya terhadap beliau. Sampai jumpa di lain kesempatan ya mas.
Sekali lagi, thanks ya mas!
Sebastian Partogi atau Ogi (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Bagian Satu: Tentang Membaca.
Sejak SD saya memang sudah senang membaca. Segala macam buku saya lahap. Mulai dari ensiklopedi sampai buku bergambar tentang ilmu pengetahuan alam. Komik pun sering saya baca. Kesukaan saya membaca buku ini melebihi kesukaan saya untuk bergaul dengan orang lain, sehingga boleh dibilang sebagian besar masa sekolah saya, saya habiskan untuk membaca buku.
Namun ketika saya masuk Fakultas Psikologi UAJ, terutama semester-semester awal, frekuensi membaca saya berkurang. Ini karena saya terlalu asyik bermain dengan teman-teman kuliah (sepertinya untuk mengkompensasikan waktu bermain saya yang "hilang" di saat saya masih kecil). Selain itu saya juga terlalu fokus pada buku-buku teks ilmu Psikologi yang harus saya pelajari. Kebiasaan saya membaca buku-buku
pengetahuan umum pun sangat berkurang, sehingga pengetahuan umum saya, terutama yang berhubungan dengan ilmu Sosial, sangatlah miskin.
Saya tidak mengerti secara komprehensif tentang tragedi Tanjung Priok, tragedi Santa Cruz, saya bahkan sudah lupa tentang sejarah penjajahan bangsa Indonesia dan bagaimana bangsa Indonesia kemudian mulai bangkit dan berjuang untuk meraih kemerdekaan. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk masuk ke peminatan Psikologi Sosial. Hal tersebut saya lakukan karena:
1. Saya mulai tertarik pada isu isu sosial-budaya karena mengikuti kuliah bu Nani Nurrachman, bu Bernadette Setiadi, dan bu Hana Panggabean;
2. Saya menyadari bahwa pengetahuan dan cara berpikir saya saat berusaha memahami bidang sosial-budaya masih sangat minim.
Pada umumnya, dari semua kelas di peminatan sosial, saya mendapatkan banyak masukan baru mengenai cara berpikir dan pengetahuan informatif untuk berkiprah di bidang Sosial. Namun ada satu mata kuliah yang di dalamnya saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan umum saja, tetapi juga saran-saran praktis tentang cara mengembangkan pengetahuan, cara pandang, dan juga wawasan saya. Kuliah tersebut bernama Teori Aktivitas Manusia. Dan pengajarnya adalah mas Eric M. Santosa.
Pada awal kuliah tersebut, jujur saya sempat merasa sedikit terintimidasi oleh cara mengajar beliau. Karena dari cara berbicara dan berpikir beliau, saya melihat bahwa beliau jauh lebih superior daripada saya dan rekan-rekan mahasiswa yang lain. Sehingga saya sungguh merasa malu apabila menjawab pertanyaan dengan salah dan kemudian tampak bodoh.
Momen yang paling berkesan di dalam kelas dan juga kemudian berpengaruh pada perubahan perilaku saya terjadi pada sebuah sesi presentasi di mana mas Eric bertanya pada mahasiswa di kelas: "Elu baca apa aja, goblok??". Saya agak kaget saat mendengar pertanyaan tersebut. Juga merasa terganggu dengan pilihan kata yang beliau gunakan. Namun setelah direnungkan kembali, saya rasa sama sekali tidak ada yang salah dengan pilihan kata yang beliau gunakan. Secara pribadi saya sadar bahwa saya masih "kosong". Belum memiliki banyak pengetahuan.
Sempat saya merasa kecil hati karena menyadari betapa "kosong"nya pikiran saya. Namun untungnya, beliau kemudian memberi tahu cara untuk mengisi kekosongan pikiran tersebut, yaitu dengan cara membaca buku, terutama di bidang sosial. Yang paling berkesan bagi saya adalah pesan beliau sebagai berikut (bukan kutipan persis, tapi intinya ya seperti yang saya tuliskan di bawah ini):
"Jangan pikir gara gara elu orang Psikologi, elu gak perlu belajar demografi, sosiologi dan lain lain ya. PSIKOLOGI ITU KOSONG KALAU GAK DIBARENGIN DENGAN PENGETAHUAN TENTANG ILMU YANG LAIN."
(nah bagian yang ditulis dalam huruf kapital itulah, kalimat yang kemudian membuat gue sadar tentang pentingnya mengisi diri dengan pengetahuan lain selain ilmu Psikologi!)
dan satu kutipan lagi:
"Orang yang tidak tahu sejarahnya adalah orang yang tidak punya identitas"
(gara2 kalimat ini gue membeli bukunya Adam Schwarz berjudul 'A Nation in Waiting', juga bukunya Bernard Vlekke berjudul 'Nusantara')
Beberapa kalimat yang dilontarkan pada saat kuliah ternyata bisa mengubah perilaku saya secara signifikan. Saya jadi rajin membaca. Selain untuk menghindari sapaan "sampah", saya juga jadi rajin membaca supaya punya banyak ilmu yang bisa membantu saya saat berkiprah di bidang Sosial selepas kuliah. Sejak kuliah bersama mas Eric di semester 6 tersebut, saya menjadi seorang pembaca yang agresif, terutama di bidang ilmu Sosial. Dalam sehari saya bisa membaca hingga 100 halaman, ketika sedang tidak diganggu dengan kegiatan lain yang menyita waktu.
Ternyata kebiasaan membaca juga menjadi suatu hal yang menyenangkan terutama saat melewati kemacetan. Lama-kelamaan daripada duduk melamun saat menghadapi jalanan Cirendeu yang macet total pukul 7 pagi, saya membawa buku dan membaca di dalam angkot. Saat membaca, saya selalu ingat pertanyaan mas Eric: "Elu baca apa aja? Goblok!". Ternyata membaca itu asyik sekali dan membantu saya memperbaiki sistematika berbicara saya saat berhadapan dengan orang lain.
Bagian Dua: Tentang Pekerjaan
Saya sering mendengar pengalaman mas Eric sebagai peneliti, terutama peneliti kualitatif di bidang social marketing. Saya sendiri tidak pernah berencana untuk menjadi peneliti saat masih kuliah. Pekerjaan impian saya adalah menjadi pembicara. Namun belakangan ini saya mendapat tawaran untuk bekerja di bidang riset kualitatif pada sebuah perusahaan di Jakarta. Saya mendaftarkan diri untuk pekerjaan tersebut dan dipanggil untuk tes tertulis.
Ternyata soal yang diberikan saat tertulis adalah verbatim FGD dari sebuah penggalian data riset pasar. Juga analisis mengenai standpoint sebuah iklan di majalah. Tes tertulis itu saya jalani pada 18 April 2011, sekian bulan setelah saya mengikuti kuliahnya Mas Eric. Namun entah mengapa saat saya harus menganalisis verbatim FGD, tiba-tiba konsep brand awareness yang pernah diberikan oleh mas Eric di kelas SDSA muncul di kepala saya. Persisnya mengenai tahapan AITA atau Awareness, Interest, Trying, dan Adopting. Dengan framework tersebut saya melakukan analisis terhadap verbatim yang disodorkan pada saya, lalu memberikan kritik, kesimpulan, serta rekomendasi terhadap proses FGD yang dijadikan soal.
Kemudian untuk analisis iklan saya tiba-tiba teringat teori Aktivitas Manusia tentang instrumen, objek, dan juga materi tentang standpoint sebuah brand dan organisasi. Berdasarkan framework tersebut saya melakukan analisis, dengan mengingat-ingat contoh yang pernah diberikan oleh mas Eric di kelas. Dua minggu kemudian, saya mendapatkan telepon yang menyatakan bahwa saya lolos tes tertulis dan akan diwawancara oleh direktur riset kualitatif di perusahaan tersebut.
Apakah saya akan lolos wawancara tersebut? Saya belum tahu pasti. Tetapi saya ingin membagikan pengalaman ini. Siapa tahu mas Eric akan senang waktu tahu bahwa materi kuliah yang pernah beliau berikan di kelas, telah membantu saya lolos tes tertulis di sebuah perusahaan riset. Sekian kesan saya terhadap beliau. Sampai jumpa di lain kesempatan ya mas.
Sekali lagi, thanks ya mas!
Sebastian Partogi atau Ogi (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Menurut Saya Jauh Lebih Baik Jika Beliau Jadi ...
#a-tribute-to-mas-eric-08
Salah satu dari tiga dosen yang selalu berhasil membuat saya bersedia bangun pagi untuk ke kampus.
Salah satu dari tiga dosen yang bikin saya super kecewa kalo kelasnya ternyata nggak ada.
Salah satu dari tiga dosen yang bisa membuat saya lebih memilih untuk berpikir sejuta kali sebelum berargumen, karena rasa-rasanya argumen saya belum sebanding dengan argumen yang muncul dari otak brilian beliau..
Yap. Beliau adalah Mas Eric Mulyadi Santosa, Dr.Phil.
Dosen yang mengajarkan bagaimana kita menuangkan setiap butiran kata dengan hati.
Dosen yang membuat teman-teman saya bertanya, 'Kenapa lo mau masuk sosial sih, Mir?'
Dosen yang saya kagumi, dan menurut saya jauh lebih baik jika beliau menjadi rektor Atma Jaya.. =P
Dosen yang membuat saya tercengang dengan teori aktivitasnya yang ternyata menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan saya selama ini.
Gak nulis panjang-panjang deh, supaya masih bisa dilanjutin tulisannya kalo semester depan masih bisa mendapat ilmu-ilmu lain yang membuat air liur menetes. Lagipula, kayaknya pengalaman saya dengan beliau belum segitu banyaknya. Terima kasih mas Eric, buat ilmunya. Saya masih pengen mendalami archetype, boleh kan? Hehehe..
Cheers,
Almira Rahma (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Salah satu dari tiga dosen yang selalu berhasil membuat saya bersedia bangun pagi untuk ke kampus.
Salah satu dari tiga dosen yang bikin saya super kecewa kalo kelasnya ternyata nggak ada.
Salah satu dari tiga dosen yang bisa membuat saya lebih memilih untuk berpikir sejuta kali sebelum berargumen, karena rasa-rasanya argumen saya belum sebanding dengan argumen yang muncul dari otak brilian beliau..
Yap. Beliau adalah Mas Eric Mulyadi Santosa, Dr.Phil.
Dosen yang mengajarkan bagaimana kita menuangkan setiap butiran kata dengan hati.
Dosen yang membuat teman-teman saya bertanya, 'Kenapa lo mau masuk sosial sih, Mir?'
Dosen yang saya kagumi, dan menurut saya jauh lebih baik jika beliau menjadi rektor Atma Jaya.. =P
Dosen yang membuat saya tercengang dengan teori aktivitasnya yang ternyata menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan saya selama ini.
Gak nulis panjang-panjang deh, supaya masih bisa dilanjutin tulisannya kalo semester depan masih bisa mendapat ilmu-ilmu lain yang membuat air liur menetes. Lagipula, kayaknya pengalaman saya dengan beliau belum segitu banyaknya. Terima kasih mas Eric, buat ilmunya. Saya masih pengen mendalami archetype, boleh kan? Hehehe..
Cheers,
Almira Rahma (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Jebakan Batman
#a-tribute-to-mas-eric-07
Pertama kali saya mengenal seseorang yang namanya Eric Santosa adalah ketika beliau mengajar di mata kuliah bernama Metode Penelitian II (Metpen II) yang saya ikuti. Di mata kuliah tersebut, saya kurang mengenal pribadi yang lebih akrab dipanggil Mas Eric. Setelah melewati fase Metpen II, barulah saya mulai mendapat masukan dari kiri kanan, "Mas Eric itu begini..." " Mas Eric itu begitu..." "Tadi di kelas, dia itu begini..." "Tadi di kelas, dia itu begitu...". Kesimpulan dari tanggapan itu adalah Eric Santosa adalah seseorang yang jenius, kritis, sekaligus tegas. Sampai dengan semester 8 kemarin, saya hanya diajar satu kelas saja oleh beliau, meskipun seharusnya saya bisa mendapatkan tiga kelas di peminatan sosial jika jalur mata kuliah saya yang lain tak terhambat.
Bagi saya, terdapat dua sisi jika mendengar sosok Eric Santosa. Dari sisi pertama, menurut saya, Mas Eric adalah seorang yang apa adanya. Semester 9 ini akhirnya saya berkesempatan dibimbing oleh beliau. Satu pernyataan yang saya ingat intinya adalah bahwa, tanpa meninggalkan permasalahan klasik psikologi, ada "masalah lain" yang dapat dilihat dari ilmu psikologi. Saya sependapat. Walaupun dalam versi saya belum tentu sama dengan versi beliau. Psikologi merupakan ilmu yang luas selama perilaku manusia masih ada di dalamnya. Kekritisannya terkadang menjadi pengetahuan baru buat saya. Beliau juga memiliki pergaulan yang luas dari berbagai bidang. Konsep acara "Hadjatan Si Mbok" yang diusungnya menurut saya cukup jenius, meskipun masyarakat, terutama masyarakat psikologi dan Atma Jaya, terkesan masih kaget.
Di sisi satunya lagi, sosok Eric Santosa di kalangan mahasiswanya terkadang seperti Jebakan Batman. Kadang ada, kadang tidak. Jika kelas tidak ada, hanya dua pemikiran saya. Satu: Beliau sibuk. Dua: Beliau malas mengajar. Menyangkut soal malas mengajar, yang paling repot adalah mahasiswa yang pembimbing akademiknya beliau. Ada yang bercerita bahwa repot banget jika pembimbing akademiknya yang satu ini tidak ada. Sulit ditemui. Bagi saya menjadi apa adanya itu baik, kendalanya hanya satu: belum tentu bisa diterima semua orang. Menurut saya, hal ini disayangkan. Gaya bahasa Mas Eric yang tegas cenderung keras belum tentu dapat dimengerti, bahkan diterima mahasiswa (apalagi orang lain?)
Terlepas dari itu semua, yang pasti saya ingin berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan beliau. Berdiskusi tentang apapun, bahkan mengenai perfilman. Belum ada kesempatan mungkin, tapi saya selalu menanti kesempatan itu ada, karena saya senang bertukar pikiran dengan orang-orang baru. Yang pasti, keinginan saya untuk mengenal beliau tidak sesingkat tulisan ini.
Terima kasih Mas Eric. Selamat berpetualang di tempat lain.
Salam,
Alexander Matius (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Pertama kali saya mengenal seseorang yang namanya Eric Santosa adalah ketika beliau mengajar di mata kuliah bernama Metode Penelitian II (Metpen II) yang saya ikuti. Di mata kuliah tersebut, saya kurang mengenal pribadi yang lebih akrab dipanggil Mas Eric. Setelah melewati fase Metpen II, barulah saya mulai mendapat masukan dari kiri kanan, "Mas Eric itu begini..." " Mas Eric itu begitu..." "Tadi di kelas, dia itu begini..." "Tadi di kelas, dia itu begitu...". Kesimpulan dari tanggapan itu adalah Eric Santosa adalah seseorang yang jenius, kritis, sekaligus tegas. Sampai dengan semester 8 kemarin, saya hanya diajar satu kelas saja oleh beliau, meskipun seharusnya saya bisa mendapatkan tiga kelas di peminatan sosial jika jalur mata kuliah saya yang lain tak terhambat.
Bagi saya, terdapat dua sisi jika mendengar sosok Eric Santosa. Dari sisi pertama, menurut saya, Mas Eric adalah seorang yang apa adanya. Semester 9 ini akhirnya saya berkesempatan dibimbing oleh beliau. Satu pernyataan yang saya ingat intinya adalah bahwa, tanpa meninggalkan permasalahan klasik psikologi, ada "masalah lain" yang dapat dilihat dari ilmu psikologi. Saya sependapat. Walaupun dalam versi saya belum tentu sama dengan versi beliau. Psikologi merupakan ilmu yang luas selama perilaku manusia masih ada di dalamnya. Kekritisannya terkadang menjadi pengetahuan baru buat saya. Beliau juga memiliki pergaulan yang luas dari berbagai bidang. Konsep acara "Hadjatan Si Mbok" yang diusungnya menurut saya cukup jenius, meskipun masyarakat, terutama masyarakat psikologi dan Atma Jaya, terkesan masih kaget.
Di sisi satunya lagi, sosok Eric Santosa di kalangan mahasiswanya terkadang seperti Jebakan Batman. Kadang ada, kadang tidak. Jika kelas tidak ada, hanya dua pemikiran saya. Satu: Beliau sibuk. Dua: Beliau malas mengajar. Menyangkut soal malas mengajar, yang paling repot adalah mahasiswa yang pembimbing akademiknya beliau. Ada yang bercerita bahwa repot banget jika pembimbing akademiknya yang satu ini tidak ada. Sulit ditemui. Bagi saya menjadi apa adanya itu baik, kendalanya hanya satu: belum tentu bisa diterima semua orang. Menurut saya, hal ini disayangkan. Gaya bahasa Mas Eric yang tegas cenderung keras belum tentu dapat dimengerti, bahkan diterima mahasiswa (apalagi orang lain?)
Terlepas dari itu semua, yang pasti saya ingin berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan beliau. Berdiskusi tentang apapun, bahkan mengenai perfilman. Belum ada kesempatan mungkin, tapi saya selalu menanti kesempatan itu ada, karena saya senang bertukar pikiran dengan orang-orang baru. Yang pasti, keinginan saya untuk mengenal beliau tidak sesingkat tulisan ini.
Terima kasih Mas Eric. Selamat berpetualang di tempat lain.
Salam,
Alexander Matius (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Surat Cinta Dari Sampah
#a-tribute-to-mas-eric-06
Hai, pemulung yang di sana!
Apa kabar dirimu?
Ah, rindunya untuk mendengar panggilan mesra yang kamu tujukan untuk kami: ‘sampah’.
Ya, sampah. Sungguh mesra bukan? =)
Dari semua pemulung yang pernah datang di TPA ini, kamu adalah salah satu pemulung yang paling berkenan di hati. Datang minimal 30 menit setelah waktu pemungutan sampah yang telah ditetapkan pemerintah, duduk seenaknya, dan kadang mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat kami berharap ada tiupan angin dahsyat yang bisa menerbangkan kami ke TPA yang lainnya.
Tapi hanya kamu pemulung yang mau memandang kami, sampah-sampah robek yang tidak pernah berhasil mengetahui apa keinginannya. Hanya kamu yang mau masuk ke dalam dunia imajinasi kami, imajinasi sampah yang jangan-jangan bisa mengubah Indonesia. Hanya kamu yang masih rela mengangkat bungkus-bungkus yang ditinggalkan oleh pemulung lainnya, menitinya dari banyak sisi dan memasukannya ke dalam karung, untuk kamu olah lewat mesin yang kami sebut sebagai malam-panjang-tanpa-tidur.
Kami cukup tahu bahwa kamu adalah pemulung yang terkenal di dunia perpulungan. Konon katanya kamu adalah pemulung yang cerdas dalam bercerita mengenai mitologi dengan dua belas tokoh misterius di dalamnya. Tokoh-tokoh yang kamu perkenalkan pada kami. Tokoh-tokoh yang ternyata ada pada setiap serakan bungkus dan daun di TPA ini.
Ah, kami juga ingat bahwa kamu selalu membawa penggaris segitiga kesayanganmu ke TPA kami. Kamu selalu bercerita tentang betapa ajaibnya penggaris segitiga itu kepada kami. Bahkan sempat, kamu membuka identitas pribadiku hanya dengan melekatkan penggaris segitiga itu di tubuhku. Dan ya.. di sebuah arena lomba persampahan tingkat nasional, segitiga itu pula yang membuat kami sanggup menggondol medali emas untuk TPA induk tempat kami menunduk takluk .
Beberapa waktu ini kami tidak lagi melihat sosokmu. Ya.. dimulai dari beberapa bulan yang lalu, ketika kami tidak lagi melihat kereta labu yang biasa kau parkirkan di depan TPA. Kami juga pernah mencoba melongok ke warteg Amerika di sebelah TPA induk, berharap kamu sedang memuaskan fiksasi oralmu yang belakangan ini dilarang pemerintah. Tapi.. ternyata nihil. Tidak ada hasilnya.
Ah, pemulung nan hebat, kemanakah dirimu kan beranjak?
Kami ini sampah-sampah yang paling rusak, paling liar, tidak ada satu tong sampah pun yang berminat untuk kami tumpangi. Itulah alasan kami memilih TPA ini.
Wahai pemulung yang budiman, walau kadang sikapmu seperti preman, kami tahu bahwa di hatimu yang terdalam, kamu punya rupa yang menawan, dan bakat besar menjadi juru selamat dunia persampahan.
Kami pasti merindukan kritik 5 menit yang berdampak pada turunnya self esteem kami selama 5 hari.
Kami pasti rindu pada retorika-retorika hebat yang membuat kami ternganga.
Kami pasti rindu pada ide-ide yang tak pernah sanggup dipikirkan oleh bungkus pisang.
Kami pasti rindu.. Kami pasti rindu… dan pasti sangat merindu..
Pemulung tersayang, walau kami sampah, kami mengerti cinta yang kau tunjukkan dalam bentuk yang sama sekali berbeda dari pemulung lainnya. Walau kami sampah, kami masih punya mata untuk menatap binar kebahagiaan ketika kamu bercerita tentang karya, masa yang lampau, pengalaman memulungmu yang menyejahterakanmu, juga ide terliar yang belum pernah kami dengar. Juga tentang dunia yang belum sanggup kami impikan.
Pemulung yang romantis, kami ini mengagumi kisah-kisah yang selalu kamu ceritakan dengan nada tak manis. Bahwa hidup salah satunya adalah untuk melakukan yang dicinta, mengikuti hasrat, mengikuti gairah, membiarkan energi di dalam bungkus-bungkus kami ini menyeruak dan menghasilkan mahakarya.
Karena menurutmu, cuma dengan begitulah kami akan mengerti apa itu bahagia.
Pemulung, ini suara hati kami. Bahwa kami mengagumi segala hal yang kau bawakan pada kami. Bahwa kami masih menyimpan sedikit harap bahwa kamu akan kembali, dengan kereta labu yang terparkir apik, dan janji diskusi beberapa menit di warteg Amrik.
Pemulung, tidakkah berat bagimu meninggalkan kami? Sampah-sampah ini masih harus diolah. Entah siapa yang akan melanjutkan peranmu nanti. Tapi, sosokmu akan tetap kekal di dalam sukma. Bahkan ketika kami sedang digilas, diberikan pewarna, dicetak ulang, atau bahkan dibakar.
Dan jika di suatu saat jalan hidup kita bersinggungan, kenalilah kami sebagai mantan sampahmu. Karena pada saat itu, mungkin kami sudah berubah, menjadi juru selamat dunia persampahan. Di Indonesia? Tidak. Terlalu kecil rasanya. Bagaimana dengan dunia persampahan internasional? Tentunya tanpa salib dan embel-embel lainnya.
Salam Cinta,
Sampah!
Anggita Hotna Panjaitan (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Hai, pemulung yang di sana!
Apa kabar dirimu?
Ah, rindunya untuk mendengar panggilan mesra yang kamu tujukan untuk kami: ‘sampah’.
Ya, sampah. Sungguh mesra bukan? =)
Dari semua pemulung yang pernah datang di TPA ini, kamu adalah salah satu pemulung yang paling berkenan di hati. Datang minimal 30 menit setelah waktu pemungutan sampah yang telah ditetapkan pemerintah, duduk seenaknya, dan kadang mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat kami berharap ada tiupan angin dahsyat yang bisa menerbangkan kami ke TPA yang lainnya.
Tapi hanya kamu pemulung yang mau memandang kami, sampah-sampah robek yang tidak pernah berhasil mengetahui apa keinginannya. Hanya kamu yang mau masuk ke dalam dunia imajinasi kami, imajinasi sampah yang jangan-jangan bisa mengubah Indonesia. Hanya kamu yang masih rela mengangkat bungkus-bungkus yang ditinggalkan oleh pemulung lainnya, menitinya dari banyak sisi dan memasukannya ke dalam karung, untuk kamu olah lewat mesin yang kami sebut sebagai malam-panjang-tanpa-tidur.
Kami cukup tahu bahwa kamu adalah pemulung yang terkenal di dunia perpulungan. Konon katanya kamu adalah pemulung yang cerdas dalam bercerita mengenai mitologi dengan dua belas tokoh misterius di dalamnya. Tokoh-tokoh yang kamu perkenalkan pada kami. Tokoh-tokoh yang ternyata ada pada setiap serakan bungkus dan daun di TPA ini.
Ah, kami juga ingat bahwa kamu selalu membawa penggaris segitiga kesayanganmu ke TPA kami. Kamu selalu bercerita tentang betapa ajaibnya penggaris segitiga itu kepada kami. Bahkan sempat, kamu membuka identitas pribadiku hanya dengan melekatkan penggaris segitiga itu di tubuhku. Dan ya.. di sebuah arena lomba persampahan tingkat nasional, segitiga itu pula yang membuat kami sanggup menggondol medali emas untuk TPA induk tempat kami menunduk takluk .
Beberapa waktu ini kami tidak lagi melihat sosokmu. Ya.. dimulai dari beberapa bulan yang lalu, ketika kami tidak lagi melihat kereta labu yang biasa kau parkirkan di depan TPA. Kami juga pernah mencoba melongok ke warteg Amerika di sebelah TPA induk, berharap kamu sedang memuaskan fiksasi oralmu yang belakangan ini dilarang pemerintah. Tapi.. ternyata nihil. Tidak ada hasilnya.
Ah, pemulung nan hebat, kemanakah dirimu kan beranjak?
Kami ini sampah-sampah yang paling rusak, paling liar, tidak ada satu tong sampah pun yang berminat untuk kami tumpangi. Itulah alasan kami memilih TPA ini.
Wahai pemulung yang budiman, walau kadang sikapmu seperti preman, kami tahu bahwa di hatimu yang terdalam, kamu punya rupa yang menawan, dan bakat besar menjadi juru selamat dunia persampahan.
Kami pasti merindukan kritik 5 menit yang berdampak pada turunnya self esteem kami selama 5 hari.
Kami pasti rindu pada retorika-retorika hebat yang membuat kami ternganga.
Kami pasti rindu pada ide-ide yang tak pernah sanggup dipikirkan oleh bungkus pisang.
Kami pasti rindu.. Kami pasti rindu… dan pasti sangat merindu..
Pemulung tersayang, walau kami sampah, kami mengerti cinta yang kau tunjukkan dalam bentuk yang sama sekali berbeda dari pemulung lainnya. Walau kami sampah, kami masih punya mata untuk menatap binar kebahagiaan ketika kamu bercerita tentang karya, masa yang lampau, pengalaman memulungmu yang menyejahterakanmu, juga ide terliar yang belum pernah kami dengar. Juga tentang dunia yang belum sanggup kami impikan.
Pemulung yang romantis, kami ini mengagumi kisah-kisah yang selalu kamu ceritakan dengan nada tak manis. Bahwa hidup salah satunya adalah untuk melakukan yang dicinta, mengikuti hasrat, mengikuti gairah, membiarkan energi di dalam bungkus-bungkus kami ini menyeruak dan menghasilkan mahakarya.
Karena menurutmu, cuma dengan begitulah kami akan mengerti apa itu bahagia.
Pemulung, ini suara hati kami. Bahwa kami mengagumi segala hal yang kau bawakan pada kami. Bahwa kami masih menyimpan sedikit harap bahwa kamu akan kembali, dengan kereta labu yang terparkir apik, dan janji diskusi beberapa menit di warteg Amrik.
Pemulung, tidakkah berat bagimu meninggalkan kami? Sampah-sampah ini masih harus diolah. Entah siapa yang akan melanjutkan peranmu nanti. Tapi, sosokmu akan tetap kekal di dalam sukma. Bahkan ketika kami sedang digilas, diberikan pewarna, dicetak ulang, atau bahkan dibakar.
Dan jika di suatu saat jalan hidup kita bersinggungan, kenalilah kami sebagai mantan sampahmu. Karena pada saat itu, mungkin kami sudah berubah, menjadi juru selamat dunia persampahan. Di Indonesia? Tidak. Terlalu kecil rasanya. Bagaimana dengan dunia persampahan internasional? Tentunya tanpa salib dan embel-embel lainnya.
Salam Cinta,
Sampah!
Anggita Hotna Panjaitan (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
*ps: Sampah itu berharga, bisa diolah, dan berguna. Dan semua berkat kepahlawanan sang pemulung.
Shock Terapi Dari Mas Eric
#a-tribute-to-mas-eric-05
Dulu, pas gw baru masuk kuliah, di semester satu gw dapet "shock therapy" dari mas Eric yang waktu itu jadi dosen mata kuliah Metode Penelitian I. Jadi, ceritanya waktu itu tulisan gw dan anak-anak sekelas dibilang "SAMPAH".
Lantas gw mikir, "Dosa apa gw dapet dosen yang kayak begini??".
Bayangin dong, gimana sih rasanya anak-anak semester satu, yang baru seneng-seneng naik status jadi mahasiswa, tiba-tiba: Jegeeeng... Dikatain S.A.M.P.A.H!
Alhasil, gara-gara dibilang sampah itu, gw sempet ngecap mas Eric sebagai dosen galak. Untungnya itu terpatahkan, setelah makin lama gw makin sering ketemu mas Eric di mata kuliah lainnya seperti Metode Penelitian II dan Psikologi Budaya.
Lama-lama gw jadi mikir, ada untungnya juga ternyata ya dapet dosen kayak mas Eric, yang bisa mendorong mahasiswa-mahasiswanya untuk jadi lebih kritis dan lebih terbuka cara pandangnya. Sering juga gw mikir "Gila ni dosen pinter banget, omongannya ga ada yang nyampe di otak gw!" hehe..
Saking pinternya mas Eric ya, rasanya ada satu kebanggaan tersendiri kalo udah pernah diajar ama mas Eric. Kesannya seakan-akan kepintarannya bisa menular gitu. Ahahaha...
Salam,
Kartika Halim (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Dulu, pas gw baru masuk kuliah, di semester satu gw dapet "shock therapy" dari mas Eric yang waktu itu jadi dosen mata kuliah Metode Penelitian I. Jadi, ceritanya waktu itu tulisan gw dan anak-anak sekelas dibilang "SAMPAH".
Lantas gw mikir, "Dosa apa gw dapet dosen yang kayak begini??".
Bayangin dong, gimana sih rasanya anak-anak semester satu, yang baru seneng-seneng naik status jadi mahasiswa, tiba-tiba: Jegeeeng... Dikatain S.A.M.P.A.H!
Alhasil, gara-gara dibilang sampah itu, gw sempet ngecap mas Eric sebagai dosen galak. Untungnya itu terpatahkan, setelah makin lama gw makin sering ketemu mas Eric di mata kuliah lainnya seperti Metode Penelitian II dan Psikologi Budaya.
Lama-lama gw jadi mikir, ada untungnya juga ternyata ya dapet dosen kayak mas Eric, yang bisa mendorong mahasiswa-mahasiswanya untuk jadi lebih kritis dan lebih terbuka cara pandangnya. Sering juga gw mikir "Gila ni dosen pinter banget, omongannya ga ada yang nyampe di otak gw!" hehe..
Saking pinternya mas Eric ya, rasanya ada satu kebanggaan tersendiri kalo udah pernah diajar ama mas Eric. Kesannya seakan-akan kepintarannya bisa menular gitu. Ahahaha...
Salam,
Kartika Halim (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2008)
Dari Ciliwung ke OMO
#a-tribute-to-mas-eric-04
Apa hubungannya Ciliwung dan OMO? Hubungannya adalah Mas Eric! Inilah sepenggal paper yang gw dan tim hasilkan, pada waktu ikut kelas Metode Kualitatif yang diasuh beliau. Langsung teringat jelas si Poniman yang tarik ulur senar itu, 3 cities, Peronika, dan Halim (semuanya adalah video/film yang diputar selama kelas Metode Kualitatif). Masih teringat juga gaya duduk beliau yang khas: duduk dengan sepatu menapak di kursi.
Waktu itu jelas ada insiden kecil. Berawal dari kurangnya atensi dan minimnya kapasitas penerimaan ilmu kami (para mahasiswa), maka selama setengah semester sisanya beliau memutuskan tidak ada kuliah tatap muka. Dalam hati saya “celaka dah, ni dosen mana susah ditemui”. Akhirnya kami memutuskan untuk menemui beliau, meminta penjelasan mengenai jenis laporan yang diminta.
Betapa terkejutnya saya, ternyata laporannya agak “suka-suka gue-style”, sangat luwes dan bebas. Tapi saya sadar, hal ini bisa membimbing kami ke “ketololan” lebih lanjut. Pendek kata, kami melakukan pengamatan pertama di Bedeng, menghasilkan deskripsi singkat dan menyerahkannya pada mas Eric. Ketika dibaca, seketika layar notebook saya langsung dibalik, dan beliau mulai bercerita tentang Tancho, sang merk minyak rambut legendaris. Setelah itu menjalar ke konsep pemasaran AITA (yang ternyata setelah gw riset ke buku-buku marketing dan wikipedia, adanya AIDA coy!).
Segera setelah itu, sehubungan dengan konsep “health and hygiene”, gw langsung teringat sabun! Waktu itu gw teringat suatu brand yang sempat terkenal, itulah OMO. Semangat langsung terpompa untuk membuat laporan baru, yang akhirnya berakhir pada keadaan yang sama (menurut gw: kagak dibaca!). Seinget gw, waktu itu kami menghadap di ruang wadek 3 yang notabene daerah kekuasaan mas Raymond. Saat itulah kami (gw dan Dennis) diperkenalkan pada “Dari Thames ke Ciliwung” karya Andreas Harsono, lalu kami diminta untuk lebih banyak lagi membaca karya opini jurnalistik.
Segera riset mengenai tulisan Andreas Harsono saya lakukan dan mencoba menangkap apa maksud dan keinginan Mas Eric. Sebenarnya tidak terlalu sulit karena Dennis sendiri selalu menjadi editor koran dinding di masa kami SMA dulu. Ternyata, hingga sekarang artikel "Dari Thames ke Ciliwung" itu sangat berkesan bagi saya.
Maka, sebenarnya saya bercerita panjang lebar ini cuma mau bilang, bahwa tulisan "Dari Thames ke Ciliwung" itu merupakan karya jurnalistik yang mengesankan, dari segi penulisan maupun latar belakang emosional tentang bagaimana saya bisa bertemu dengan tulisan ini.
Akhir kata, selamat berpindah ke lain hati buat Mas Eric, semoga segitiga aktivitas, archetype, dan ilmu-ilmu lain yang mas kenalkan ke kita bisa tetap dikembangkan, dan membuat kami di lingkungan Psikologi bisa terus “keracunan”.
Just my 2 cents.
Di depan notebook, 2011
Roy Pratomo (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Apa hubungannya Ciliwung dan OMO? Hubungannya adalah Mas Eric! Inilah sepenggal paper yang gw dan tim hasilkan, pada waktu ikut kelas Metode Kualitatif yang diasuh beliau. Langsung teringat jelas si Poniman yang tarik ulur senar itu, 3 cities, Peronika, dan Halim (semuanya adalah video/film yang diputar selama kelas Metode Kualitatif). Masih teringat juga gaya duduk beliau yang khas: duduk dengan sepatu menapak di kursi.
Waktu itu jelas ada insiden kecil. Berawal dari kurangnya atensi dan minimnya kapasitas penerimaan ilmu kami (para mahasiswa), maka selama setengah semester sisanya beliau memutuskan tidak ada kuliah tatap muka. Dalam hati saya “celaka dah, ni dosen mana susah ditemui”. Akhirnya kami memutuskan untuk menemui beliau, meminta penjelasan mengenai jenis laporan yang diminta.
Betapa terkejutnya saya, ternyata laporannya agak “suka-suka gue-style”, sangat luwes dan bebas. Tapi saya sadar, hal ini bisa membimbing kami ke “ketololan” lebih lanjut. Pendek kata, kami melakukan pengamatan pertama di Bedeng, menghasilkan deskripsi singkat dan menyerahkannya pada mas Eric. Ketika dibaca, seketika layar notebook saya langsung dibalik, dan beliau mulai bercerita tentang Tancho, sang merk minyak rambut legendaris. Setelah itu menjalar ke konsep pemasaran AITA (yang ternyata setelah gw riset ke buku-buku marketing dan wikipedia, adanya AIDA coy!).
Segera setelah itu, sehubungan dengan konsep “health and hygiene”, gw langsung teringat sabun! Waktu itu gw teringat suatu brand yang sempat terkenal, itulah OMO. Semangat langsung terpompa untuk membuat laporan baru, yang akhirnya berakhir pada keadaan yang sama (menurut gw: kagak dibaca!). Seinget gw, waktu itu kami menghadap di ruang wadek 3 yang notabene daerah kekuasaan mas Raymond. Saat itulah kami (gw dan Dennis) diperkenalkan pada “Dari Thames ke Ciliwung” karya Andreas Harsono, lalu kami diminta untuk lebih banyak lagi membaca karya opini jurnalistik.
Segera riset mengenai tulisan Andreas Harsono saya lakukan dan mencoba menangkap apa maksud dan keinginan Mas Eric. Sebenarnya tidak terlalu sulit karena Dennis sendiri selalu menjadi editor koran dinding di masa kami SMA dulu. Ternyata, hingga sekarang artikel "Dari Thames ke Ciliwung" itu sangat berkesan bagi saya.
Maka, sebenarnya saya bercerita panjang lebar ini cuma mau bilang, bahwa tulisan "Dari Thames ke Ciliwung" itu merupakan karya jurnalistik yang mengesankan, dari segi penulisan maupun latar belakang emosional tentang bagaimana saya bisa bertemu dengan tulisan ini.
Akhir kata, selamat berpindah ke lain hati buat Mas Eric, semoga segitiga aktivitas, archetype, dan ilmu-ilmu lain yang mas kenalkan ke kita bisa tetap dikembangkan, dan membuat kami di lingkungan Psikologi bisa terus “keracunan”.
Just my 2 cents.
Di depan notebook, 2011
Roy Pratomo (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2007)
Mas, Teorinya Saya Pake Ya...
#a-tribute-to-mas-eric-02
Dear mas Eric Dr.Phil.,
Mas, gue ga tau yah apakah elu masih kenal gue atau ngga, yang jelas nama gue Indro, gue dari kelas Sosial angkatan 2006 bersama Sang Pencerah Wisnu Wiradany itu, gue mendengar kabar bahwa elu akan "move". I don't know where to. But my friend asked me to write something about you. So, here it is:
Secara jelas gue musti menghargai apapun yang elu berikan ke gue mas, Human Activity Theory khususnya. Right now gue bekerja di Center on Child Protection - UI, di bawah Funding Internasional, dan percaya atau tidak ilmu Human Activity Theory yang elu ajarkan (secara sekilas) gue gunakan di bidang pekerjaan gue (Data-Information) untuk menyusun sebuah strategi informasi tentang perlindungan anak, jadi gue bisa bilang bahwa ilmu elu Mas punya impact social, even orang-orang Amrik di tempat gue kerja pun jarang yang kenal teori elu.
So, at last I want to say good luck for your "next place", wherever it is.
Cheers,
Indro Adinugroho (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2006)
Center on Child Protection University of Indonesia
Dear mas Eric Dr.Phil.,
Mas, gue ga tau yah apakah elu masih kenal gue atau ngga, yang jelas nama gue Indro, gue dari kelas Sosial angkatan 2006 bersama Sang Pencerah Wisnu Wiradany itu, gue mendengar kabar bahwa elu akan "move". I don't know where to. But my friend asked me to write something about you. So, here it is:
Secara jelas gue musti menghargai apapun yang elu berikan ke gue mas, Human Activity Theory khususnya. Right now gue bekerja di Center on Child Protection - UI, di bawah Funding Internasional, dan percaya atau tidak ilmu Human Activity Theory yang elu ajarkan (secara sekilas) gue gunakan di bidang pekerjaan gue (Data-Information) untuk menyusun sebuah strategi informasi tentang perlindungan anak, jadi gue bisa bilang bahwa ilmu elu Mas punya impact social, even orang-orang Amrik di tempat gue kerja pun jarang yang kenal teori elu.
So, at last I want to say good luck for your "next place", wherever it is.
Cheers,
Indro Adinugroho (mahasiswanya mas Eric, angkatan 2006)
Center on Child Protection University of Indonesia
Mas E itu Pinternya Cuma Mitos
#a-tribute-to-mas-eric
Denger-denger, mas E itu pinter luar biasa. Banyak temen-temen saya yang kagum kalau si mas E ini lagi ngajar atau menganalisa sesuatu. Apalagi kalau lagi ceritain pengalamannya sebagai market researcher. Wah, kagum banget deh kita sama kepinteran mas E. Saking pinternya, biasanya kita-kita ini cuma bisa pasrah kalau disuruh menjawab pertanyaan si mas E. Dan pastinya lebih pasrah lagi kalau si mas E nyuruh kita ngajuin pertanyaan. Soalnya kita itu ya sering minder kalo berargumen di hadapan si mas E. Pasti mas E siap banget membantai kita. Siap banget membuat kita-kita ini mawas diri, bahwa kita-kita ini masih jauh dari yang namanya pinter.
Ga sedikit temen saya yang terkesima, terpana, terkagum-kagum, dan "tersentuh" hidupnya oleh si mas E. Semua itu ya berkat kepinteran si mas E. Keluwesannya saat membangun argumen. Ketajamannya ketika menganalisa. Kehebatannya saat memaparkan sesuatu. Banyak deh pokoknya. Tapi, kok saya ini kadang-kadang meragukan kepinteran si mas E ya. Buat saya, seringkali mas E itu bagaikan mitos doang. Bukan kedatangannya ke kelas ya, kalau itu sih memang seringnya mitos doang. Kirain bakal ngasih kuliah, eh ternyata enggak. Kirain bakal nongol di kelas, eh ternyata enggak. Hehehe.. Bukan, bukan itu maksud saya. Yang saya maksud mitos itu, ya kepintarannya si mas E.
Habisnya, saya itu seringkali gak habis pikir. Kenapa si mas E yang katanya pinter itu, koq mau-maunya buang waktu, tenaga, dan pikiran, buat jadi dosen. Padahal, dengan ilmu yang mas E punya, kita-kita itu yakin mas E bisa jadi apa aja. Jadi superman bisa. Jadi batman bisa. Jadi nabi juga mungkin bisa. Intinya, mas E itu pasti sanggup "menyelamatkan" banyak orang. Tapi, si mas E malah memilih "menyelamatkan" mahasiswa seperti kita-kita ini yang jiwanya tersesat dan perlu dibimbing.
Mas E itu lebih milih ngurusin para mahasiswanya, termasuk saya, dibanding melakukan banyak hal-hal hebat lainnya. Gak jarang loh, si mas E ini meluangkan waktunya untuk sekedar mendengarkan mimpi-mimpi mahasiswanya. Ide-ide nyeleneh mahasiswanya. Obrolan-obrolan absurd mahasiswanya. Selain itu si mas E ini juga ga sungkan-sungkan mempercayakan sesuatu pada mahasiswanya. Beragam tugas, kerjaan, dan tanggung jawab yang cukup "berat" sering dipercayakan pada mahasiswanya. Padahal, mahasiswa itu kan sering banget ngeluh, ngasal, dan ngegampangin. Mahasiswa itu kan jauh dari yang namanya pinter. Tapi tetep aja loh, si mas E mau aja deket dan percaya sama kita-kita ini.
Begitulah, saya kadang bingung sebenernya si mas E itu beneran pinter, setengah pinter, atau cuma mitos doang sih pinternya? Tapi, ya sudah lah. Meski mas E itu pinternya cuma mitos, tapi saya yakin kepeduliannya sama mahasiswa itu bukan mitos. Mau pinter ataupun enggak, si mas E juga tetep guru saya. Guru kami. Segenap ide, pemikiran, dan cara pandangnya itu sedikit banyak kami teladani. Dan itu bukan cuma mitos. Saya yakin banget.
Jakarta, 2011.
Okki Sutanto.
Denger-denger, mas E itu pinter luar biasa. Banyak temen-temen saya yang kagum kalau si mas E ini lagi ngajar atau menganalisa sesuatu. Apalagi kalau lagi ceritain pengalamannya sebagai market researcher. Wah, kagum banget deh kita sama kepinteran mas E. Saking pinternya, biasanya kita-kita ini cuma bisa pasrah kalau disuruh menjawab pertanyaan si mas E. Dan pastinya lebih pasrah lagi kalau si mas E nyuruh kita ngajuin pertanyaan. Soalnya kita itu ya sering minder kalo berargumen di hadapan si mas E. Pasti mas E siap banget membantai kita. Siap banget membuat kita-kita ini mawas diri, bahwa kita-kita ini masih jauh dari yang namanya pinter.
Ga sedikit temen saya yang terkesima, terpana, terkagum-kagum, dan "tersentuh" hidupnya oleh si mas E. Semua itu ya berkat kepinteran si mas E. Keluwesannya saat membangun argumen. Ketajamannya ketika menganalisa. Kehebatannya saat memaparkan sesuatu. Banyak deh pokoknya. Tapi, kok saya ini kadang-kadang meragukan kepinteran si mas E ya. Buat saya, seringkali mas E itu bagaikan mitos doang. Bukan kedatangannya ke kelas ya, kalau itu sih memang seringnya mitos doang. Kirain bakal ngasih kuliah, eh ternyata enggak. Kirain bakal nongol di kelas, eh ternyata enggak. Hehehe.. Bukan, bukan itu maksud saya. Yang saya maksud mitos itu, ya kepintarannya si mas E.
Habisnya, saya itu seringkali gak habis pikir. Kenapa si mas E yang katanya pinter itu, koq mau-maunya buang waktu, tenaga, dan pikiran, buat jadi dosen. Padahal, dengan ilmu yang mas E punya, kita-kita itu yakin mas E bisa jadi apa aja. Jadi superman bisa. Jadi batman bisa. Jadi nabi juga mungkin bisa. Intinya, mas E itu pasti sanggup "menyelamatkan" banyak orang. Tapi, si mas E malah memilih "menyelamatkan" mahasiswa seperti kita-kita ini yang jiwanya tersesat dan perlu dibimbing.
Mas E itu lebih milih ngurusin para mahasiswanya, termasuk saya, dibanding melakukan banyak hal-hal hebat lainnya. Gak jarang loh, si mas E ini meluangkan waktunya untuk sekedar mendengarkan mimpi-mimpi mahasiswanya. Ide-ide nyeleneh mahasiswanya. Obrolan-obrolan absurd mahasiswanya. Selain itu si mas E ini juga ga sungkan-sungkan mempercayakan sesuatu pada mahasiswanya. Beragam tugas, kerjaan, dan tanggung jawab yang cukup "berat" sering dipercayakan pada mahasiswanya. Padahal, mahasiswa itu kan sering banget ngeluh, ngasal, dan ngegampangin. Mahasiswa itu kan jauh dari yang namanya pinter. Tapi tetep aja loh, si mas E mau aja deket dan percaya sama kita-kita ini.
Begitulah, saya kadang bingung sebenernya si mas E itu beneran pinter, setengah pinter, atau cuma mitos doang sih pinternya? Tapi, ya sudah lah. Meski mas E itu pinternya cuma mitos, tapi saya yakin kepeduliannya sama mahasiswa itu bukan mitos. Mau pinter ataupun enggak, si mas E juga tetep guru saya. Guru kami. Segenap ide, pemikiran, dan cara pandangnya itu sedikit banyak kami teladani. Dan itu bukan cuma mitos. Saya yakin banget.
Jakarta, 2011.
Okki Sutanto.
Subscribe to:
Posts (Atom)